Sabtu, 11 April 2015

Daftar 782 Kerajaan-Kerajaan di Nusantara

  1. Amarasi: kerajaan di Timor Barat.
  2. Ambawang: kerajaan bawahan dari kerajaan Kubu di Kalimantan Barat. Ambawang berusaha menjadi negara merdeka dari Kubu pada tahun sekitar 1800, tetapi tak diperbolehkan oleh Hindia Belanda yg mengumumkannya pada tahun 1830.
  3. Ambeno, Ambenu, Ambeno Mosu Talip: kerajaan di Timor Barat.
  4. Ambeno Kolabe: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu], didirikan oleh orang-orang yg melarikan diri dari Oecussi Ambeno
  5. Amfoan, Amfoang, Amfoan Naikliu, Amfoan Timau: kerajaan di Timor Barat, awalnya disebut hanya Amfoan, tetapi kemudian pecah menjadi 2 cabang; Amfoan Naikliu & Amfoan Timau. Raja dari Amfoan Naikliu memerintah hanya pada kota Naikliu & beberapa desa.
  6. Ampibabo: kerajaan yg berada di tengah Sulawesi
  7. Anakalang: kerajaan yg berada di barat dari pulau Sumba
  8. Andeue & Lala: kerajaan yg merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, berada di wilayah Sumatra.
  9. Arai: kerajaan yg merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, berada di wilayah Sumatra. Merupakan bagian dari Federasi Hulubalang XII.
  10. Areë
  11. Aru atau Haru: kerajaan suku Karo di muara sungai Wampu, Sumatera Utara.
  12. Aceh: berada di wilayah utara dari pulau Sumatra, kesultanan Achin atau Atjeh didirikan pada akhir abad ke-15.
  13. Adonara: kerajaan yg berada di pulau pegunungan berapi yg bernama pulau Adonara di Kepulauan Sunda Kecil.
  14. Aga Nonsin
  15. Agang Nionjo
  16. Agrabinta: berada di Daerah Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur Sekarang wilayah Selatan Jawa Barat pulau Jawa, Kerajaan didirikan pada abad ke-2 Masehi.
  17. Aitoon: kerajaan di pulau Timor Barat.
  18. Ajer Lebu: kerajaan yg lebih kurang merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, berada di wilayah Sumatra.
  19. Alita: kerajaan yg berada di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.
  20. Allah: kerajaan yg berada di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.
  21. Amaabi Oefeto: kerajaan di pulau Timor Barat yg terbentuk pada tahun 1917 menjadi kerajaan Kupang yg lebih besar.
  22. Amabi:kerajaan di pulau Timor Barat yg terbentuk pada tahun 1917 menjadi kerajaan Kupang yg lebih besar.
  23. Amahei: kerajaan setengah merdeka di barat daya dari Seram di Maluku. Pemimpinnya digelari Raja pada tahun 1960-an.
  24. Amakono
  25. Amanatun: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu]. Kedaulatan kerajaan diganti pada tahun 1962. Istana Raja dipindahkan dari Nunkolo ke SoE pada tahun 1952.
  26. Amanuban: Kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu]. Istana Raja disebut Sonaf Naik [Istana Besar].
  27. Arun: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di daerah Meureudu, Sumatra. Merupakan bagian dari Federasi Hulubalang XII.
  28. Asahan: berada di Sumatra bagian timur, didirikan menjadi sebuah kerajaan pada akhir abad ke-17 oleh anak dari Sultan Aceh.
  29. Ati Ati: Kerajaan yg berada di bagian timur pulau Irian.
  30. Atingola: kerajaan di Sulawesi Utara. didirikan tahun 1667 & ditundukkan pada tahun 1889.
  31. Baa: satu dari 19 kerajaan yg berada di kepulauan Rote, Barat Daya Pulau Timor, dibentuk tahun 1691.
  32. Bacan: kerajaan seluas 1. 600 km² di Kepulauan Maluku yg didirikan pada tahun 1322 oleh orang-orang dari Djailolo [sekarang Jailolo] & diperintah oleh pemimpin Islam sejak abad ke-16, yg kemudian bergelar Sultan.
  33. Bada: kerajaan di Sulawesi Tengah
  34. Badung: kerajaan yg dibentuk karena kejatuhan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali & Lombok membagi kerajaannya untuk ke-9 anak-anaknya. Wilayahnya saat ini menjadi Kabupaten Badung.
  35. Bagoh
  36. Bait: kerajaan kecil di Timor Barat
  37. Baju: kerajaan yg merupaken bagian dari Kesultanan Aceh di daerah Sumatra.
  38. Balangnipa: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.
  39. Balatu: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.
  40. Balepe: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.
  41. Bali & Lombok
  42. Bambel: kerajaan yg merupaken bagian dari Kesultanan Aceh di daerah Sumatra.
  43. Bambi & Oenoë, Bambi & Unu: kerajaan yg merupaken bagian dari Kesultanan Aceh di Sigli. Merupakan bagian dari Federasi Hulubalang VI.
  44. Banasu: kerajaan di Sulawesi Tengah.
  45. Banawa: kerajaan di Sulawesi Tengah, yg dibentuk pada 1667.
  46. Bancea & Puumbolo: kerajaan di Sulawesi Tengah, bagian dari Poso.
  47. Bandahara
  48. Banga: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.
  49. Banggai: kerajaan di Pulau Banggai di tenggara Sulawesi.
  50. Bangkala: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan, ditundukkan pada tahun 1863.
  51. Bangkalaan: kerajaan di Kalimantan Selatan, disebut juga kerajaan Tanah Bumbu.
  52. Bangkalan: kerajaan seluas 354 km² di Pulau Madura yg menurut legenda didirikan oleh Raja Majapahit terakhir. Penguasa pertama pada tahun 1530 ialah anak dari Pangeran Palakaran, awal abad ke-16.
  53. Bangli: kerajaan yg didirikan sesudah kejatuhan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, Penguasa Bali & Lombok membagi kerajaannya.
  54. Banjar: kerajaan di Kalimantan Selatan yg mungkin didirikan akhir abad ke-14 oleh Empu Djamatka dari Hindustan, memeluk Islam pada 1520.
  55. Bantam
  56. Banten: didirikan awal abad ke-16 saat kejatuhan Majapahit.
  57. Bantjea & Puumbolo
  58. Banua Kuran
  59. Barang Barang: kerajaan di Sulawesi Selatan, didirikan pada 1667.
  60. Barnusa: kerajaan di bagian barat dari Pulau Pantar, sebelah barat Pulau Alor. Kekuasaan terpisah menjadi dua marga yaitu Baso & Blegar.
  61. Bolaang Mongondow: kerajaan di Sulawesi Utara yg bergabung dengan Indonesia tahun 1568 dengan Ternate & menjadi bagian pada tahun 1677. Tonsawang, Pasan, Ratahan, Povosakon, & Somoit [Bantik] sebagai Panglima tentara kerajaan Bolaang Mongondow pada 1697.
  62. Bolaang Uki: negara kota di Sulawesi Utara.
  63. Bolano: kerajaan di tengah daerah Moutong, Sulawesi Tengah.
  64. Bone: di daerah Bugis, Sulawesi Selatan. didirikan pada 1634, ditundukkan Belanda pada 1905 & dikembalikan pada 1931.
  65. Bonea: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.
  66. Bonerate: kerajaan di Pulau Bonerate, Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.
  67. Bontobiraeng: Kerajaan di Sulawesi Selatan, yg didirikan dibawah pemerintahan Karaeng Bontobiraeng,yang namanya diganti menjadi nama sebuah Desa yaitu Desa Ara Kec. Bontobahari, yg berada didaerah Sulawesi Selatan Kab. Bulukumba yg masuk dlm wilayah Kerajaan Bone.
  68. Bontobangun: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.
  69. Bontobatu
  70. Buakaju: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.
  71. Bubon: kerajaan di Sumatera.
  72. Buging & Bagoh: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
  73. Buket
  74. Bulalong
  75. Buleleng: kerajaan yg dibangun sebagai akibat dari kejatuhan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali & Lombok membagi kerajaannya.
  76. Bulo Bulo: kerajaan di Sulawesi Selatan.
  77. Bulungan, Boelongan: kerajaan di Kalimantan Timur, Bagian dari Berau pada abad ke-19.
  78. Bungku: kerajaan di Sulawesi Tengah, merdeka dari Ternate pada 1900.
  79. Buntubatu: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
  80. Bunut: kerajaan di Kalimantan Barat.
  81. Bunyut
  82. Buol: negara kota di Sulawesi Tengah, didirikan pada 1660.
  83. Buton: kerajaan yg didirikan sebelum 1550 di Pulau Buton, di tenggara Sulawesi. Sejak 1886, memiliki 3 keturunan sultan yaitu: Kaum Tanailandutak, Kaum Tapitapitak & Kaum Kumbewahatak.
  84. Campa: kerajaan di Vietnam bagian selatan.
  85. Cantung: kerajaan di Kalimantan Selatan.
  86. Cenrana: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Barat.
  87. Ceranti
  88. Cirebon: kerajaan yg didirikan pada tahun 1478
  89. Cumbok
  90. Cunda
  91. Dafalu: kerajaan di Timor Barat.
  92. Daha: kerajaan Hindu yg pernah berdiri di Kalimantan Selatan.
  93. Dehla: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote, Barat daya Pulau Timor. Dehla melepaskan diri dari Oenale & didirikan pada tahun 1800-an.
  94. Deli: kerajaan seluas 1,820 km² di timur Sumatera & didirikan pada tahun 1630. Kerajaan antara tahun 1630 sampai 1814, berubah menjadi kesultanan tahun 1814 ketika memperoleh kemerdekaan dari Kerajaan Siak.
  95. Demak: kerajaan Islam pertama di Jawa, didirikan di Demak pada tahun 1478 oleh Raden Patah.
  96. Denai: kerajaan kota seluas 46 km² di timur Sumatra.
  97. Dengka: kerajaan terbesar dari 19 kerajaan yg berada di Pulau Rote.
  98. Denpasar
  99. Dharmasraya: kerajaan yg terletak di selatan Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, & di utara Jambi. Memiliki persahabatan erat dengan Majapahit dengan perkawinan kedua putrinya, Dara Jingga & Dara Petak dengan Raja & bangsawan Majapahit.
  100. Dimu
  101. Dirma: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu]. Kadang merupaken bagian dari Federai Belu.
  102. Diu: satu dari 19 kerajaan di Pulau Rote, kadang berada di bawah kekuasaan Korbafo, didirikan pada 1691.
  103. Djailolo
  104. Djambi
  105. Djongkong
  106. Dolago: kerajaan di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah.
  107. Dolo: kerajaan di Sulawesi Tengah. Dolo pernah bergabung dengan Rindau & Kaleke dari tahun 1650 sampai 1890, dengan Birumaru dari 1908 menjadi Dolo Birumaru sampai Birumaru memisahkan diri.
  108. Dolok Silau: kerajaan di Sumatera Timur.
  109. Dompu: kerajaan di Pulau Sumbawa
  110. Donggala
  111. Federasi Duri
  112. Edi Besar [keakuratan dipertanyakan]
  113. Edi Tjoet [keakuratan dipertanyakan]
  114. Mukims Sama Indra VIII & Lhok Kaju [keakuratan dipertanyakan]
  115. Ende: kerajaan kepulauan di kepuluan Flores
  116. Enjung: kurang lebih ialah kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di daerah Sumatera. Kerajaan ini ialah bagian dari federasi Hulubalangs XII dari Pedir.
  117. Enrekang: kerajaan di wilayah Bugi di Celebes Selatan.
  118. Faan: kerajaan di pulau Kei Kecil, kepulauan Kei di Maluku. [keakuratan dipertanyakan]
  119. Fatagar: kerajaan yg berada di timur Papua.
  120. Fatu Leu: kerajaan di Timor Barat, dibentuk tahun 1912
  121. Fialarang: kerajaan merdeka atau setengah merdeka di Timor Barat [Timor Loro Manu]. Kadang-kadang dianggap menjadi bagian dari federasi Belu.
  122. Foenay: kerajaan di Timor Barat yg terbentuk tahun 1917
  123. Gajo Lues
  124. Galesong: kerajaan di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan.
  125. Gaura: kerajaan di pulau Sumba.
  126. Gebang: kerajaan bawahan dari Kesultanan Cirebon, di Jawa.
  127. Gedong, Geudong: kerajaan yg dibentuk abad ke-16, bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  128. Gelgel: kerajaan di pulau Bali yg terbentuk sesudah runtuhnya Majapahit. Kerajaan ini menganggap dirinya sebagai penerus sejati Majapahit.
  129. Geumpang: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  130. Gianyar: kerajaan yg dibentuk sesudah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, pemimpin Bali & Lombok membagi kerajaan besarnya menjadi beberapa kerajaan di antara 9 miliknya.
  131. Gighen: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sigli Sumatra. Kerajaan ini ialah bagian dari Federasi Hulubalang VI dari Gighen.
  132. Gigiëng
  133. Glumpangduwa
  134. Glumpang Pajong: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sigli Sumatra.
  135. Goa atau Gowa: kerajaan yg berada di wilayah Makassar di barat daya Sulawesi, sebelum tahun 1300.
  136. Gorontalo: Kerajaan di Sulawesi Utara, didirikan tahun 1667.
  137. Gresik
  138. Gunung Sahilan: kerajaan yg mempunyai luas 359. 12 km² di Sumatra timur.
  139. Gunung Mutis: kerajaan yg ada di Timor Barat [Timor Loro Manu], bawahan kerajaan Mollo.
  140. Gunungtabur: kerajaan di Kalimantan Timur, dibentuk dari kerajaan Berau yg dibagi menjadi 2 kerajaan.
  141. Harneno: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu]. Keturunan dari kerajaan Beboki
  142. Haruku: kerajaan kepulauan di Ambon timur, Maluku Tengah
  143. Heba
  144. Helong
  145. Henda Heti
  146. Herlang: kerajaan di Kabupaten Bulukumba, Raja yg terkenal Karaeng Kilong dg Mangalle [Karaeng Lange-lange]
  147. Holontalo
  148. Hitu: kerajaan yg terletak di Pulau Ambon, Maluku, masa kejayaannya berkisar antara tahun 1470 sampai dengan 1682 dengan rajanya yg bergelar Upu Latu Sitania.
  149. Iboih: kerajaan yg kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, daerah Sigli, Sumatra.
  150. Idi Besar: kerajaan yg kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, Sumatra.
  151. Idi Cut
  152. Idi Ketjil
  153. Idi Rajeu, Idi Rajut
  154. Idi Tjut: kerajaan yg kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, Sumatra.
  155. Iha: kerajaan di Pulau Saparua, Maluku.
  156. Ilot: kerajaan yg kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, Sumatra.
  157. Indamar: kerajaan kecil di Sumatra barat.
  158. Inderapura [Sri]
  159. Indragiri: kerajaan di Sumatera Timur, didirikan 1639, merdeka dari Johor tahun 1745
  160. Inderapura: kerajaan dengan luas 62 km² di Sumatera Timur, dibentuk oleh kerajaan-kerajaan seperti Tanjung, Tanjung Kassau, Si Pare Pare & Pagurawan, di bawah jabatan raja Tanjung.
  161. Insana: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu]
  162. Jailolo: kesultanan di Pulau Halmahera di Maluku Utara. Kerajaan utama sebelumnya ialah Jailolo pada 1322, tetapi pada 1380, Ternate memegang kekuasaan atas pulau tersebut.
  163. Jambi: kerajaan seluas 53,206 km² di selatan Sumatera, didirikan pada 1690 & dikuasai Belanda pada 1901.
  164. Janggala: salah satu dari dua kerajaan pecahan Kahuripan tahun 1049 [satu lainnya ialah Kadiri], yg dipecah oleh Airlangga untuk dua puteranya.
  165. Jangka Buda
  166. Jarewea
  167. Jenilu: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu].
  168. Jodjakarta
  169. Jolok Ketjil: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  170. Jongkong: kerajaan di Kalimantan Barat
  171. Julo Cut, Julo Tjut: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  172. Julo Rajeu: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  173. Juluk Tjut
  174. Kota V di Mudik [keakuratan dipertanyakan]
  175. Kota V di Tengah [keakuratan dipertanyakan]
  176. Kuta V [keakuratan dipertanyakan]
  177. Kota IV di Ilir [keakuratan dipertanyakan]
  178. Kota IV di Mudik [keakuratan dipertanyakan]
  179. Kota IV Rokan Kiri [keakuratan dipertanyakan]
  180. Kadiri, Kediri: kerajaan yg bercorak Hindu di Jawa Timur, berdiri sekitar tahun 1045-1221. Disebut juga dengan nama Panjalu atau Dhaha.
  181. Kahuripan: kerajaan di Jawa Timur yg didirikan oleh Airlangga pada tahun 1019. Kerajaan ini dibangun dari sisa-sisa istana Kerajaan Medang yg telah dihancurkan oleh Sriwijaya pada tahun 1019.
  182. Kaidipang Besar: kerajaan kota di Sulawesi Utara, dibentuk tahun 1912 sebagai hasil dari penggabungan kerajaan Kaidipang & Bolaäng Itang.
  183. Kajang:terletak di kabupaten Bulukumba, terdapat suku Kajang dengan pemangku adatnya bergelar Ammatowa, Raja terkenal Karaeng Dea dg Lita.
  184. Kalao: kerajaan dari kepulauan Kalao, terletak di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.
  185. Kalaota: kerajaan di pulau Kalaota, di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.
  186. Kale
  187. Kaleke
  188. Kalibawang: Kerajaan merdeka yg dibentuk tahun 1831 oleh Sultan Yogyakarta untuk cucu dari Sultan Abdul Rahman Amangku Buwono II [keakuratan dipertanyakan].
  189. Kalingga: kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah, yg pusatnya berada di daerah Kabupaten Jepara sekarang.
  190. Kalungkung
  191. Kambera: kerajaan di pulau Sumba.
  192. Kampong Raja: kerajaan di Sumatera, didirikan tahun 1630 oleh anak dari Raja Bila.
  193. Kanatang: kerajaan di pulau Sumba.
  194. Kandhar
  195. KangaE: kerajaan di pulau Flores.
  196. Kanjuruhan: kerajaan bercorak Hindu di Jawa Timur, yg pusatnya berada di dekat Kota Malang sekarang
  197. Kapunduk: kerajaan yg berada di timur dari pulau Sumba.
  198. Karang: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di daerah Tamiang, Sumatra.
  199. Karangasem: kerajaan yg dibentuk sesudah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali & Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa kerajaan di antara 9 miliknya.
  200. Kasa: kerajaan di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.
  201. Kasiman
  202. Kasimbar: kerajaan di Sulawesi Tengah.
  203. Kassa
  204. Kassiman
  205. Kawai XVI: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  206. Kawali
  207. Kayaudi: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667
  208. Kejuruan Muda: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di daerah Tamiang, Sumatra.
  209. Kajuara: kerajaan di Sulawesi Selatan merupaken bagian dari Kerajaan Bone.
  210. Keka: satu dari 19 kerajaan di kelompok Pulau Rote, barat daya dari Timor. Keka melepaskan diri dari Termanu tahun 1772.
  211. Kendahe: kerajaan di Sulawesi Utara, dibentuk tahun 1521 di pulau Sangir & menjadi kabupaten dari Kendahe Tahuna dari tahun 1896 sampai 1950.
  212. Keo
  213. Kepanuhan: kerajaan di Sumatera Timur.
  214. Kerambitan
  215. Kesiman, atau Kessiman
  216. Keumala: kerajaan yg merupaken bawahan dari kesultanan Aceh. kerajaan ini merupaken bagian dari federasi Hulubalangs VI.
  217. Keumangan: kerajaan yg merupaken bawahan dari kesultanan Aceh. kerajaan ini merupaken bagian dari federasi Hulubalangs VI.
  218. Keureutu: kerajaan yg merupaken bawahan dari kesultanan Aceh.
  219. Kewar: kerajaan setengah merdeka di Timor Barat [Timor Loro Manu]. Sejarah Kewar nampaknya berhubungan dengan Lamaknen.
  220. Kilang: dinasti turunan dari raja-raja Majapahit di Jawa. 3 bersaudara masing-masing membentuk kerajaan Soya, di puncak gunung Sirimau, kerajaan Nusaniwe, & kerajaan Kilang.
  221. Kisar: kerajaan pulau di utara dari Timor Timur, nama lokalnya Yotowawa & kadang disebut juga Kisser.
  222. Klein Sonbait
  223. Kluang: kerajaan yg merupaken bawahan dari kesultanan Aceh.
  224. Klumpang Duwa: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra
  225. Klumpang Pajong: kerajaan yg merupaken bawahan dari kesultanan Aceh. kerajaan ini merupaken bagian dari Federasi Hulubalangs VI.
  226. Klungkung: kerajaan utama yg lahir sesudah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, pemimpin Bali & Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa kerajaan di antara 9 miliknya.
  227. Kobi
  228. Kodi Belagar: kerajaan di pulau Sumba
  229. Kodi Bengado: kerajaan di pulau Sumba
  230. Kodi Besar: kerajaan di pulau Sumba
  231. Kolaka: kerajaan di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini ialah bawahan dari Luwu, yg juga memelihara hubungan yg kuat dengan Laiwui.
  232. Kolana: kerajaan di pulau Alor. Kolana bergabung dengan Pureman & Erana pada tahun 1932.
  233. Konaweha: kerajaan di Sulawesi Tenggara.
  234. Kondeha: kerajaan di Sulawesi Selatan.
  235. Korbafo: satu dari 19 kerajaan di kelompok kepulauan Rote, barat daya dari Timor.
  236. Kota Besar: kerajaan di Sumatera Barat.
  237. Kota Intan
  238. Kota Lama
  239. Kota Pinang: kerajaan yg mempunyai luas 1,859 km² di Sumatera Timur, didirikan tahun 1630 oleh anak dari Raja Bila.
  240. Koying: kerajaan tertua di pulau Sumatera abad ke-3 sampai ke-5, berpusat di Jerangkang Tinggi, pinggir Danau Kerinci di Jambi
  241. Kotawaringin: kerajaan yg didirikan pada tahun 1679 di Kalimantan Tengah.
  242. Kruengpase: kerajaan yg merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  243. Krueng Sabe, atau Krung Sabil: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  244. Krueng Seumideuen: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sigli, Sumatera. kerajaan ini merupaken bagian dari Federasi Hulubalangs VI.
  245. Kuala Bateo: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatera.
  246. Kualuh & Leidong: kerajaan yg didirikan pada tahun 1868 untuk Tuanku Namatu’llah, cucu dari Raja Musa Shah, Sultan Asahan
  247. Kuantan: kerajaan di Riau, Sumatra, merupaken tempat asal muasal raja-raja Pagaruyung. Setiap terjadi pergolakan di Pagaruyung maka Kuantan merupaken tempat perlindungan yg paling aman bagi raja-raja Pagaruyung untuk menyelamatkan diri sambil mengatur siasat. Salah seorang rajanya ialah tTuanku Pandak Yang Dipertuani Kuaantan memerintah pada abad ke-16. p Dia mempunyai seorang anak perempuan bernama Puti Cahaya Korong yg menikah dengan Yang Dipertuan Bukit Tarok.
  248. Kubu: kerajaan yg dibentuk tahun 1772 di Kalimantan Barat & memiliki kaitan erat dengan Kesultanan Pontianak.
  249. Kuet: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh.
  250. Kui: kerajaan di pulau Alor.
  251. Kulawi: kerajaan kota di Sulawesi Tengah, dibentuk tahun 1915
  252. Kuntodaressalam: kerajaan dengan luas 2. 450 km² di Sumatera Timur, dibentuk dari kerajaan Kota Intan & Kota Lama.
  253. Kupang: suatu federasi yg dibentuk tahun 1917 yg disusun oleh kerajaan Amabi, Amaabi OEfeto, Foenay, Kupang Helong, Sonbai Kecil & TaEbenu dengan seorang raja terpilih.
  254. Kupang Helong: kerajaan di Timor Barat yg dibentuk tahun 1917 menjadi kerajaan Kupang yg lebih besar dengan Amaabi OEfetto, Amabi, Foenay, Sonbai Kecil & TaEbenu.
  255. Kuripan: kerajaan kuno yg beribukota di kecamatan Danau Panggang, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.
  256. Kusa: kerajaan di Timor Barat.
  257. Kusan: kerajaan di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
  258. Kutabuluh: kerajaan di Sumatera Timur.
  259. Kutai Kartanegara ing Martadipura: kesultanan di Kalimantan Timur yg awalnya berpusat di Kutai Lama, kemudian menguasai Kutai Martadipura.
  260. Kutai Martadipura: kerajaan hindu di Kalimantan Timur, dengan rajanya yg terkenal Mulawarman, pusat kerajaan terletak di Muara Kaman.
  261. Kuwala Batu
  262. Kuwalu & Ledong: kerajaan di Sumatera Timur
  263. Luwu: kerajaan yg didirikan sebelum tahun 1600 di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan merupaken asal mula dari semua kerajaan yg ada di tanah sulawesi selatan serta merupaken kerajaan pertama & tertua yg menguasai sulawesi selatan bahkan kekuasaannya sampai daerah sulawesi tengah,gorontalo bahkan mernyebar sampai ke tanah buton.
  264. Labakkang: kerajaan & kota di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini dibentuk abad ke-16 & ditindas pada tahun 1892 sewaktu menjadi bagian dari Pangkajene.
  265. Labala: kerajaan di selatan pulau Lomblem atau Lembata.
  266. Labuhanhaji: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra. Tanah jajahannya ialah Kota Tring, Pelokkan, Kamumu [atau Kenumu], & Pelumat.
  267. Lage: kerajaan di Sulawesi Tengah, bawahan dari Posso.
  268. Lageuen: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  269. Laikang: kerajaan di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan.
  270. Laisolat: kerajaan di Timor Barat.
  271. Laiwui: kerajaan tertua & terbesar di Sulawesi Tenggara.
  272. Lakatang: kerajaan & kota di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan.
  273. Lakekun: kerajaan di Timor Barat
  274. Lakoka: kerajaan di pulau Sumba
  275. Lakoon
  276. Lala
  277. Lamahala: kerajaan di pulau Adonara. Lamahala digabung ke Larantuka pada tahun 1932.
  278. Lamakera: kerajaan di pulau Solor, dibentuk sesudah pemisahan kerajaan Solor menjadi dua, Lohayong & Lamakera.
  279. Lamaknen
  280. Lamaksenulu: kerajaan merdeka atau setengah merdeka di Timor Barat [Timor Loro Manu]. Kadang-kadang menjadi bagian dari ferasi Belu.
  281. Lambeusu: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra
  282. Lambu
  283. Lamuri, di Kabupaten Aceh Besar, Aceh.
  284. Lamuru: kerajaan bawahan dari Bone, wilayah Bugis, Sulawesi Selatan. Didirikan tahun 1609.
  285. Landak: kerajaan di Kalimantan Barat yg merdeka tahun 1478 sesudah keruntuhan kerajaan Majapahit.
  286. Landu: kerajaan yg paling tua dari 19 kerajaan kelompok pulau Rote, terletak di barat-day Timor.
  287. Langkat: kerajaan dengan luas 3. 336 km² di Sumatera Timur. Didiriikan tahun 1721.
  288. Langsa, Langsar: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  289. Lapai: kerajaan di Sulawesi Selatan.
  290. Larantuka: kerajaan dengan luas 3. 330 km² di kepulauan Flores, ditemukan tahun 1400.
  291. Lati
  292. Lauli: kerajaan di pulau Sumba.
  293. Laura: kerajaan di pulau Sumba.
  294. Lawajong
  295. Laweueng
  296. Lawonda: kerajaan di pulau Sumba.
  297. Ledong, Leidong
  298. Lelain: satu dari 19 kerajaan di kelompok pulau Rote, barat-day Timor. Sebelum Lelain menjadi kerajaan terpisah sendiri tahun 1690, Lelain melepaskan diri dari Bokai.
  299. Lelenuk: satu dari 19 kerajaan di kelompok pulau Rote, barat-day Timor. Kerajaan melepaskan diri dari Termanu & dibentuk tahun 1772
  300. Lengkese: kerajaan kota di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan.
  301. Lepan: kerajaan di Sumatera Timur dengan luas 31 km²
  302. Leukon, Leukuen: kerajaan di pulau Simeulue, di wilayah Sumatra, tunduk kepada Belanda pada tahun 1880.
  303. Lewa: kerajaan di pulau Sumba.
  304. Lhokbubon: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  305. Lhok Kaju
  306. Lhokkruet: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  307. Lhokpawoh Utara: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  308. Lhokpawoh Selatan: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  309. Lhok Rigaih
  310. Lhokseumawe: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  311. LiaE: kerajaan yg berada di wilayah pulau Sawu.
  312. Lidak: kerajaan di bagian timur dari Timor Barat.
  313. Lilinta: kerajaan di barat dari Papua.
  314. Lima Laras: kerajaan dengan luas 202 km² di Sumatera Timur. Lima Laras membentuk federasi Batu Bahara Urung.
  315. Lima Puloh: kerajaan dengan luas 148 km²di Sumatera Timur. Lima Puloh membentuk federasi Batu Bahara Urung.
  316. Limboto: kerajaan kota di Sulawesi Utara, ditemukan tahun 1667 & ditekan tahun 1895.
  317. Lindai: kerajaan di Sumatera Timur.
  318. Lingga-Riau: kerajaan Riau di Sumatera Timur yg didirikan tahun 1720 sebagai jajahan dari kesultanan Johor. tahun 1824, kesultanan Lingga dibentuk.
  319. Lingga: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh.
  320. Lio: kerajaan di pulau Flores.
  321. Lise: kerajaan di pulau Flores.
  322. Logas
  323. Lohayong: kerajaan di pulau Solor, dibentuk dari pemisahan kerajaan Solor menjadi 2 kerajaan.
  324. Lok Semawe
  325. Loleh: satu dari 19 kerajaan di kelompok pulau Rote, barat-daya Timor. Dikuasai oleh Termanu tahun 1730.
  326. Lombok: kerajaan pulau di Bali yg menjadi merdeka sesudah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, pemimpin Bali & Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa.
  327. Lore
  328. Lubuk Ambacang: kerajaan di Sumatera Timur, dibentuk dari pemisahan kerajaan Kuantan menjadi 5 kerajaan.
  329. Lubuk Bendaharo: Kerajaan di Daerah Aliran Sungai Rokan bagian hulu Riau, yg merupaken daerah asal suku sakai rokan.
  330. Lubuk Jambi: kerajaan di Sumatera Timur, dibentuk dari pemisahan kerajaan Kuantan menjadi 5 kerajaan.
  331. Lubuk Ramo: kerajaan di Sumatera Timur, dibentuk dari pemisahan kerajaan Kuantan menjadi 5 kerajaan.
  332. Madura: kerajaan di daerah Madura, Jawa Timur, dengan tokoh terkenalnya Joko Tole da Trunojoyo
  333. Maiwa: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan, didirikan pada 1685.
  334. Majapahit: kerajaan terbesar pada masanya yg menguasai nusantara, berpusat di Jawa Timur.
  335. Majene: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Barat.
  336. Makale: satu dari 3 kepangeranan utama di luar 14 di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
  337. Makassar
  338. Makier: kerajaan merdeka atau semi-merdeka di Timor Barat.
  339. Malaka
  340. Malimbong: kerajaan di derah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
  341. Malua
  342. Malusetasi: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
  343. Maluwa: kerajaan kota di derah Bugis, Sulawesi Selatan. Pernah menjadi anggota Federasi Duri.
  344. Mambulu: kerajaan di Sulawesi Selatan.
  345. Mampawa
  346. Mamuju: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Barat.
  347. Manbait
  348. Mananga: kesultanan di Pulau Solor, Nusa Tenggara Timur.
  349. Mandalle: kerajaan kota di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.
  350. Mandeo: kerajaan merdeka atau semi-merdeka di Timor Barat.
  351. Manganitu: kerajaan di Sulawesi Utara, didirikan pada 1521 & menjadi regenschap [”kabupaten”] dari 1911 sampai 1950 dengan Manganitu sebagai ibukota.
  352. Manggarai: kerajaan di Pulau Flores, berdiri dari 1759. Dari 1762 s. d. 1815 & dari 1851 s. d. 1907, Manggarai merupaken bagian dari Kesultanan Bima.
  353. Manggeng: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  354. Mangkunagaran: kerajaan seluas 2. 579,98 km² yg didirikan pada 17 Maret 1757 di Kasunanan Surakarta.
  355. Manjuto atau Pamuncak Tigo Kaum: kerajaan di daerah ulu, dengan raja bernama Tuanku Magek Bagonjong, pusat kerajaan di Jerangkang Tinggi-Pulau Sangkar, Kerinci Jambi
  356. Manoletten: kerajaan di Timor Barat.
  357. Manubait: kerajaan di Timor Barat.
  358. Mapia: kerajaan di utara Papua, di pulau Mapia.
  359. Mappa: kerajaan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
  360. Marang: kerajaan kota di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.
  361. Marioriawa: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
  362. Marioriwawo: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan. Jajahan dari Soppeng.
  363. Maros: kerajaan di barat daya Sulawesi, bawahan dari Gowa.
  364. Massu Karera: kerajaan di pulau Sumba.
  365. Matan: kerajaan di Kalimantan Barat.
  366. Matangkuli: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  367. Mataram Kuno:sebuah kerajaan Hindu-Budha di Yogyakarta.
  368. Mataru: kerajaan di pulau Alor, yg kemudian digabungkan oleh Belanda pada 1932 menjadi kerajaan yg lebih besar.
  369. Maukatar: kerajaan merdeka atau semi-merdeka di Timor Barat.
  370. Maumutin: kerajaan di Timor Barat.
  371. Mbuli: kerajaan di pulau Flores.
  372. Medang:
  373. Mehara
  374. Melabuh
  375. Melayu Jambi
  376. Melayu Tua-Jambi
  377. Meliau: kerajaan di Kalimantan Barat.
  378. Melolo: kerajaan di pulau Sumba.
  379. Membawang
  380. Membora: kerajaan di pulau Sumba.
  381. Mempawah: kerajaan di Kalimantan Barat.
  382. Mengkendek: satu dari 3 kepangeranan utama di luar 14 di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
  383. Mengwi: kerajaan di Bali
  384. Menia: kerajaan di pulau Sawu.
  385. Menjili: kerajaan di pulau Sumba.
  386. Menungul: kerajaan di Kalimantan Selatan.
  387. Merdu
  388. Mesara: kerajaan di pulau Sawu.
  389. Me Tareuen: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  390. Meuke: kerajaan seluas 353 km² yg merupaken bawahan kesultanan Aceh.
  391. Meulaboh
  392. Meureubok
  393. Meureudu: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, di daerah Meureudu, Sumatera.
  394. Minanga: merupaken salah satu nama Kerajaan Melayu yg telah muncul pada tahun 645.
  395. Minangkabau: kesultanan terkuat di Sumatera abad ke-12 sampai abad ke-17.
  396. Miomaffo: kerajaan di Timor Barat.
  397. Misool: kerajaan di pulau Misool, bawahan dari Tidore.
  398. Modang
  399. Moko Moko: kerajaan di Sumatera Barat.
  400. Mollo: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu], pembentukan dari negara Netpala, Nunbena & Besiana.
  401. Mori: kerajaan di Sulawesi Barat yg merdeka dari Ternate pada 1900.
  402. Mori: sebuah kerajaan di Sulawesi Tengah.
  403. Moutong: kerajaan di Sulawesi Utara.
  404. Mukih
  405. Muna: Kerajaan di Sulawesi Tenggara
  406. Musa: kerajaan bawahan kesultanan Aceh. Sebelumnya merupaken Federasi Hulubalang XII.
  407. Nage: kerajaan di kepulauan Flores, dibentuk tahun 1919 oleh penggabungan kerajaan Nage & Keo.
  408. Naitemu: kerajaan di Timor Barat.
  409. Nanggulan: kerajaan yg dibentuk oleh Sultan Yogyakarta tahun 1831.
  410. Napu [Sulawesi]: kerajaan di Sulawesi Tengah.
  411. Napu [Sumba]: kerajaan di pulau Sumba.
  412. Ndao: satu dari 19 kerajaan di kelompok kerajaan di pulau Rote, Barat-daya dari Timor.
  413. Ndjohor
  414. Ndjong
  415. Ndona: kerajaan di kepulauan Flores.
  416. Nduri: kerajaan di kepulauan Flores.
  417. Negara Daha: kerajaan di Kalimantan Selatan.
  418. Negara Dipa: kerajaan di Kalimantan Selatan.
  419. Nenometa, Nenomatan: Kerajaan di Timor Barat.
  420. Netpala: Kerajaan di Timor Barat.
  421. Ngada: kerajaan di kepulauan Flores.
  422. Nggela: kerajaan di kepulauan Flores.
  423. Nieuw Brussel
  424. Koto IX: Kerajaan di Timor Barat.
  425. Mukims Keumangan IX
  426. Nisam: kerajaan yg kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  427. Nita: kerajaan di kepulauan Flores.
  428. Njong
  429. Noimuti: Kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu]
  430. Nokas
  431. Nunbena: Kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu]
  432. Nunusaku: kerajaan pertama di Maluku, Seram Selatan.
  433. Nusaniwe: dinasti turunan dari raja-raja Majapahit dari Jawa.
  434. OEnale: satu dari 19 kerajaan di Kepulauan Rote, barat daya Timor.
  435. Oenoe
  436. OEpao: satu dari 19 kerajaan di Kepulauan Rote, barat daya Timor. Didirikan tahun 1691.
  437. OndaE & Pebato: kerajaan di Sulawesi Tengah. Bawahan dari kerajaan Posso.
  438. Ossipaka, atau Ossipoko
  439. Padang: sebuah kerajaan kota di Sumatera Barat, rajanya ialah Tuanku Rajo Bujang yg memerintah pada tahun 1778, ia berasal dari Suku [sub-klan] Jambak, Padang.
  440. Padang Lawas: kerajaan di Sumatera Barat.
  441. Padang Tarab: kerajaan di Sumatera Barat.
  442. Paha: kerajaan yg berlokasi di sekitar Pahu, Kalimantan Timur.
  443. Pagaruyung: kerajaan yg lebih besar di Sumatera Barat.
  444. Pagatan: kerajaan kecil yg berdiri pada tahun 1775 sampai 1908 & didirikan oleh imigran suku Bugis atas seijin Raja Banjar ke-8, Panembahan Batu yg menjadi koloni suku Bugis di Kalimantan Selatan.
  445. Pagurauan: kerajaan seluas 78 km² di Sumatera Timur.
  446. Pakualaman: kerajaan seluas 417. 62 km² yg didirikan pada 22 Juni 1812 atau 17 Maret 1813 di Yogyakarta, Jawa Tengah.
  447. Pajajaran: kerajaan di Jawa Barat.
  448. Pajang:
  449. Palalawan
  450. Palande: kerajaan di Sulawesi Tengah, bagian dari Posso.
  451. Palembang: kerajaan di tenggara Sumatera, didirikan oleh Aryo Damar, anak dari raja terakhir Majapahit. atau oleh Kiai Geding Surah.
  452. Palesang: kerajaan di dearah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
  453. Palu: kerajaan kota di Sulawesi Tengah, didirikan pada 1650.
  454. Pamecutan
  455. Pameue: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  456. Panai: kerajaan seluas 561 km² di Sumatera Timur.
  457. Pandai: kerajaan di bagian barat laut pulau Pantar.
  458. Panei: kerajaan di Sumatera Timur, didirikan pada tahun 1700-an.
  459. Pangkajene: kerajaan kota di Makassar, Sulawesi Selatan.
  460. Panjalu: Kerajaan dibawah Kemaharajaan Sunda, sekarang menjadi Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat.
  461. Pante Raja: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, di daerah Meureudu, Sumatera. Sebelumnya merupaken bagian dari Federasi Hulubalang XII.
  462. Pantun: kerajaan di pedalaman Sungai Kedang Kepala, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
  463. Papekat: kerajaan merdeka di pulau Sumbawa sejak 1676, Papekat hancur oleh letusan Gunung Tambora tahun 1815.
  464. Pappa: kerajaan kota di Makassar, Sulawesi Selatan.
  465. Pariangang: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.
  466. Parigi: kerajaan di Sulawesi Selatan.
  467. Partangang
  468. Pasaman Kehasilan Kalam: kerajaan di Pasaman, Sumatera Barat, pusat kerajaan terletak di Parit Batu.
  469. Pasangan: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  470. Pasir: kerajaan di Kalimantan Timur, negara sudah terbentuk sejak lama sampai pemerintahan jatuh pada satu Panembahan yg kemudian mengambil gelar Sultan.
  471. Pasisir
  472. Pasir Mayang: kerajaan di Paser, Kalimantan Timur.
  473. Passi: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu].
  474. Pate, Patih: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  475. Patipi: kerajaan di timur Papua.
  476. Pebato
  477. Pedada
  478. Pedawa Rajut, Pedawa Besar: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  479. Pedir
  480. Pelalawan atau Palalawan: kerajaan seluas 12. 168 km² di Sumatera Timur, didirikan pada 1811, awalnya bergantung pada kesultanan Johor kemudian kesultanan Siak.
  481. Peliatan: kerajaan bagian dari Bali.
  482. Pembuang: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Barat.
  483. Perbaungan: kerajaan seluas 83 km² di Sumatera Timur.
  484. Percut, Pertjut: kerajaan seluas 103,83 km² di Sumatera Timur.
  485. Perlak: kerajaan yg terletak di Peureulak, Aceh Timur.
  486. Pesisir: kerajaan seluas 14,25 km² di Sumatera Timur.
  487. Petiambang: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  488. Peudawa Rajeu
  489. Peuduek
  490. Peukan Baro-Peukan Shot
  491. Peurala: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  492. Peusangan
  493. Peutu, Peutue: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  494. Pidie: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, di daerah Sigli, Sumatera.
  495. Pinangawan
  496. Pinatih
  497. Pineueng & Peukan Baro-Beukan Shot: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, di daerah Sigli, Sumatera.
  498. Pontianak: kerajaan yg dibentuk di Kalimantan Barat pada tahun 1771.
  499. Pucu Rantau Indragiri: kerajaan di Sumatera Barat.
  500. Puengga: kerajaan di Sulawesi Selatan, yg dibentuk pada 1667.
  501. Pulau Kaju: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  502. Pulaunas: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  503. Pulau Punjung: kerajaan di Sumatera Barat.
  504. Pulo Kajee: kerajaan bawahan kesultanan Aceh
  505. Pulau Laut: kerajaan di Kotabaru, Kalimantan Selatan.
  506. Purba: kerajaan di Sumatera Timur.
  507. Pureman: kerajaan di pulau Alor yg kemudian oleh Belanda pada tahun 1917 digabung lagi ke Erana & tahun 1932 ke Kolana.
  508. Puumbolo
  509. Raijua: kerajaan di pulau Raijua di daerah kepulauan Sawu.
  510. Raja: kerajaan di Sumatera Timur.
  511. Rambah: kerajaan kota di Sumatera Timur.
  512. Randjoea
  513. Rano: kerajaan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
  514. Konfederasi Rantau Kwantan, Federasi Rantau
  515. Sabamban: kerajaan di Kalimantan Selatan.
  516. Sadurangas
  517. Salakanagara: kerajaan kota yg disebut Argyre oleh Ptolemeus pada tahun 150 M, terletak di daerah Teluk Lada, Pandeglang.
  518. Salang: kerajaan di Pulau Simeulue, daerah Sumatera.
  519. Salaparang
  520. Salawati: kerajaan di Barat Laut Irian Jaya di Pulau Salawati.
  521. Salimbouw/Selimbau
  522. Samadua, Samaduwa: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  523. Sama Indra & Lhok Kaju: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh, di daerah Sigli. kerajaan ini sebelumnya bagian dari Federasi Hulubalang VI.
  524. Samakuro, Samakurok, Samakuru: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  525. Samalanga: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  526. Sambaliung: kerajaan di Kalimantan Timur, dibentuk dari Kesultanan Berau, berpisah tahun 1830 menjadi dua kerajaan.
  527. Sambas: kerajaan di Kalimantan Barat, yg berdiri pada akhir abad ke-16.
  528. Sampanahan: kerajaan di Kalimantan Selatan.
  529. Samprangan: kerajaan di Bali yg ditaklukkan Majapahit.
  530. Samudera Pasai: kerajaan Islam yg terletak di pesisir pantai utara Sumatera, berdiri tahun 1267 & dikuasai oleh Portugis pada tahun 1521.
  531. Sangalla: satu dari tiga kerajaan utama di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
  532. Sanggar: kerajaan di Pulau Sumbawa. Sanggar kehilangan sebagian besar penduduknya pada saat meletusnya Gunung Tambora pada tahun 1815.
  533. Sanggau: kerajaan di Kalimantan Barat.
  534. Sanrabone, Sanra Boni: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.
  535. Sarinembah: kerajaan di Sumatera Timur.
  536. Sasak
  537. Sausu: kerajaan di Sulawesi Tengah.
  538. Sawakung: di Berau
  539. Sawang: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  540. Sawiti: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
  541. Sawu
  542. Seba: kerajaan di Pulau Sawu.
  543. ‘Sebakung kerajaan di sekitar sungai Telake, Kalimantan Timur
  544. Segaluh: Kerajaan di Kediri Jawa Timur.
  545. Segeri: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan, yg dibentuk pada tahun 1776.
  546. Sekadau: kerajaan di Kalimantan Barat.
  547. Sekala Brak: kerajaan di kaki Gunung Pesagi, Lampung. merupaken cikal-bakal suku Lampung saat ini.
  548. Sekar: kerajaan di timur Papua.
  549. Selesse: kerajaan seluas 70. 48 km² di Sumatera Timur.
  550. Selimbau: kerajaan di Pegunungan Kapuas, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, didirikan tahun 800-an oleh Guntur Badju Binduh yg menurut legenda berasal dari surga.
  551. Senaam
  552. Senagan
  553. Senembah: kerajaan seluas 114. 42 km² di Sumatera Timur.
  554. Serang: kerajaan seluas 4,584 km², dengan penduduk kurang lebih 80. 000 jiwa di Pulau Sumbawa yg berdiri tahun 1650. kerajaan didirikan kembali pada tahun 1837 sesudah meletusnya Gunung Tambora tahun 1815.
  555. Serbeujadi Aboq, Serbojadi Aboq: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  556. Serdang: kerajaan di Sumatera Timur, merdeka dari Siak pada 16 Agustus 1862.
  557. Serebo Jadi
  558. Seunagan: kerajaan di daerah Sumatera. Jajahan dari kerajaan Kawai XVI atau Meulaboh.
  559. Seuneuam: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  560. Siah Utama: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  561. Siak Sri Inderapura: kerajaan seluas 16. 224 km² & berpenduduk kurang lebih 25. 000 jiwa di Sumatera Timur, didirikan pada 1716.
  562. Siantar: kerajaan di Sumatera Timur.
  563. Siang: kerajaan di Pangkep Sulawesi Selatan. Bekas pusat wilayah Kerajaan Siang, SengkaE—sekarang ini terletak di Desa Bori Appaka, Kecamatan Bungoro-Kabupaten Pangkep—Di tempat itu awalnya terdapat sungai [Sungai Siang] dengan pelabuhan yg menghubungkannya dengan wilayah pesisir yg jauh di pantai barat semenanjung Sulawesi dimana telah ramai dikunjungi para pedagang lokal, membuka hubungan ekonomi & politik dengan beberapa kerajaan lokal serta menerima kedatangan para pedagang dari Semenanjung Melayu & kapal-kapal Portugis dari sebelah barat kepulauan Nusantara antara Tahun 1542 & 1548. Kedatangan para pelaut Portugis di Pelabuhan Siang pada Abad 15 itu, sebagaimana dicatat oleh Antonio de Paiva & Manuel Pinto, justru pada saat Siang sedang menurun pengaruhnya sebagai Kerajaan terbesar di semenanjung barat Sulawesi Selatan sebelum menaiknya pamor politik Kerajaan Gowa disebelah selatannya. [Makkulau, 2005, 2007].
  564. Siau: kerajaan pulau di Sulawesi Utara, didirikan pada 1521.
  565. Sidenreng: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
  566. Sigenti: kerajaan di Sulawesi Tengah.
  567. Sigi, Sigi Birumaru, Sigi Dolo: kerajaan di Sulawesi Tengah, didirikan pada 1650.
  568. Sigulai: kerajaan di Pulau Simeulue, daerah Sumatera.
  569. Si Guntur: kerajaan di Sumatera Barat.
  570. Sikijang: kerajaan kota di Sumatera Timur.
  571. Sikka: kerajaan seluas 4. 377 km² dengan penduduk 120. 000 orang di Pulau Flores.
  572. Silat: kerajaan di Kalimantan Barat.
  573. Silawang: kerajaan di Kalimantan Barat.
  574. Silebar: kerajaan di Sumatera Barat.
  575. Si Lima Kuta: kerajaan di Sumatera Timur.
  576. Simaloer, Simalur: kerajaan di Pulau Simeulue, di daerah Sumatera.
  577. Simbuang: kerajaan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
  578. Simeulue: kerajaan di Pulau Simeulue.
  579. Simpang: kerajaan di Kalimantan Barat, berpisah dengan Sukadana pada pertengahan abad ke-18.
  580. Simpang Olim, Simpangulim: kerajaan yg ditemukan tahun 1836, kurang lebih merupaken bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
  581. Singgere: kerajaan di Sulawesi Selatan.
  582. Singhasari: kerajaan yg dibentuk oleh Ken Arok, di Jawa Timur pada tahun 1222.
  583. Singingi & Loras: kerajaan seluas 135 km² di Sumatera Timur.
  584. Singkawang: kerajaan di Kalimantan Barat.
  585. Sintang: kerajaan di Kalimantan Barat.
  586. Si Pare Pare, Si Pari Pari: kerajaan seluas 51 km² di Sumatera Timur.
  587. Sirimau
  588. Soasiu
  589. Soengai Ijoe
  590. Soetrana
  591. Solor: kerajaan di Pulau Solor, kemudian berpisan menjadi 2 kerajaan yaitu Lamakera & Lohayong atau Lawajong.
  592. Sonbai Kecil: kerajaan di Timor Barat.
  593. Soppeng: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan, didirikan pada 1609.
  594. Soya: Dinasti keturuan dari Raja Majapahit. Tiga bersaudara mendirikan kerajaan Soya, di puncak Gunung Sirimau di Nusaniwe.
  595. Sri Bangun: kerajaan yg berlokasi di sekitar Kota Bangun, Kalimantan Timur.
  596. Sri Indrapura
  597. Sri Muntai: kerajaan yg berlokasi di sekitar Muara Muntai, Kalimantan Timur.
  598. Sriwijaya: kerajaan Buddha yg berpusat di Palembang, berkuasa dari abad ke-7 sampai ke-9.
  599. Stabat: kerajaan seluas 5. 18 km² di Sumatera Timur.
  600. Suhaid: kerajaan di Kalimantan Barat.
  601. Suka: kerajaan di Sumatera Timur.
  602. Sukadana: kerajaan di Kalimantan Barat, didirikan pada akhir abad ke-15 oleh utusan Majapahit.
  603. Sukudua: kerajaan seluas 51 km² di Sumatera Timur, kemudian bergabung dengan Boga untuk membentuk kerajaan Boga Sukudua.
  604. Suli: kerajaan di selatan daerah Hitu, Pulau Ambon, Maluku.
  605. Sulu: kerajaan yg pernah ada di Kalimantan bagian utara, menguasai daerah Sabah & sekitarnya, saat ini sebagian wilayah kerajaan tersebut menjadi Provinsi Sulu, Filipina.
  606. Sumbawa: kerajaan seluas 4. 584 km² dengan penduduk 80,000 orang di Pulau Sumbawa yg didirikan pada 1650. kerajaan dibangun kembali pada tahun 1837 setelal letusan Gunung Tambora tahun 1815.
  607. Rapang: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
  608. Rebeh: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh, di daerah Sigli, Sumatera. kerajaan ini merupaken bagian dari Federasi Hulubalang XII.
  609. Rende, Rendi: kerajaan di Pulau Sumba.
  610. Reubeë
  611. Riau: kesultanan di Riau, yg rajanya berasal dari keturunan penguasa Luwu.
  612. Rigaih, Rigas: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  613. Rindau
  614. Ringgouw: satu dari 19 kerajaan di Kepulauan Rote, barat daya Pulau Timor, didirikan pada 1691.
  615. Riung: kerajaan kota di Pulau Flores.
  616. Rokan Kiri: kerajaan di Sumatera Timur.
  617. Tanjongseumanto & Meureubok: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  618. Tanjung [Kalimantan]
  619. Tanjung [Sumatera]: kerajaan di Sumatera Timur.
  620. Tanjung Kassau: kerajaan di Sumatera Timur.
  621. Sungei Tras
  622. Sunggal: kerajaan seluas 3. 98 km² di Sumatera Timur.
  623. Sungu Raja: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  624. Supiori: kerajaan di Pulau Biak, Irian Jaya. Stephen Wanda menyatakan dirinya sendiri sebagai Raja Supiori.
  625. Suppa: kerajaan seluas 225 km² dengan penduduk 5. 500 orang [1917] di Sulawesi Tengah.
  626. Surakarta: kerajaan seluas 3. 635 km² di Jawa Tengah, didirikan pada 1755 sesudah kesultanan Mataram berpisah menjadi dua kerajaan.
  627. Suroaso: kerajaan di Sumatera Barat, dekat dengan Pagaruyung. Raja terakhir Suroaso ialah Sutan Kerayahan Alam yg terlibat dlm Persekutuan dengan Belanda & Kerajaan Inggris pada tahun 1824.
  628. Susoh, Susuh: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  629. Sutan Muda: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh, di daerah Tamiang.
  630. Sutrana: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu], daerah selatan dari Oecussi Ambeno dengan sejarah yg saling berkaitan.
  631. Tabanan: kerajaan yg didirikan sesudah keruntuhan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali & Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa kerajaan.
  632. Tabukan: kerajaan di Pulau Sangir di Sulawesi Utara, didirikan pada 1521.
  633. Tabundung: kerajaan di Pulau Sumba.
  634. Turing: kerajaan di Pulau Flores.
  635. Ub ohoi faak: Salah satu kerajaan yg terluas wilayahnya di kepulauan Kei Besar dengan pusat pemerintahan di daerah yg dikenal dengan nama endralang [El Raan],Kei besar, Maluku Tenggara mencapai puncak kejayaan di masa pemerintahan Panglima Kesyiang [pemegang kekuasaan/raja dipegang turun temurun melalui kesepakatan bersama oleh salah seorang dari marga Rahawarin].
  636. Ubud: suatu keluarga raja dari Gianyar, di tenggara Bali.
  637. Ulu Tesso: kerajaan di Sumatera Timur. Kemudian menjadi Federasi Rantau.
  638. Umaclaran: kerajaan di [[Timor Barat]
  639. Umbu Ratu Nggay: kerajaan di Pulau Sumba.
  640. Una Una: kerajaan di Pulau Togian di Sulawesi Tengah, didirikan abad ke-17.
  641. Unga: kerajaan bawahan [[Kesultanan Aceh]
  642. Waai: kerajaan di Barat daya Ambon, Maluku.
  643. Waigama: kerajaan di Pulau Misool, barat Papua.
  644. Waigeo: kerajaan di barat Papua.
  645. Waihale
  646. Tado: kerajaan di Pulau Flores.
  647. Taebenu: kerajan di Timor Barat [Timor Loro Manu].
  648. Tafnai: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu].
  649. Tagulandang: kerajaan yg didirikan pada 1521 di Pulau Sangir di Sulawesi Utara.
  650. Tahuna: kerajaan di Pulau Sangir, Sulawesi Utara, yg didirikan pada 1521 & menjadi kabupaten dari Kendahe Tahuna.
  651. Takaip Ebbenoni: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu]. Bergabung dengan kerajaan Fatu Leu.
  652. Takaip Thaiboko: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu]. Bergabung dengan kerajaan Fatu Leu.
  653. TalaE: satu dari 19 kerajaan di Kepulauan Roate, barat daya Timor.
  654. Talaud: kerajaan yg didirikan pada 1521 di Pulau Talaud, Sulawesi Utara.
  655. Taleong, Taliang: kerajaan di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
  656. Taliwang
  657. Tallo: kesultanan di Sulawesi Selatan, yg merupaken sekutu terdekat Gowa.
  658. Talo: kerajaan di Sumatera Barat.
  659. Tambora: kesultanan di Pulau Sumbawa yg hancur pada tahun 1815 akibat letusan Gunung Tambora.
  660. Tambusei: kerajaan di Sumatera Timur.
  661. Tampat Tuan
  662. Tanjungpura: kerajaan di Kalimantan Barat.
  663. Termanu: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote, barat daya Timor.
  664. Ternate: kerajaan seluas 65 km² di Maluku, yg didirikan pada abad ke-13 oleh orang-orang dari Djaïlolo [sekarang Jailolo]. Ternate menjadi kerajaan utama di Maluku pada tahun 1380 melebihi Djailolo.
  665. Terong: kerajaan di selatan Pulau Adonara.
  666. Teunom: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  667. Teupah: kerajaan di Pulau Simeulue, barat Sumatera.
  668. Thie: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote, barat daya Timor. Dari 1730 sampai 1756, Manek dari Thie pergi bersama Maneks dari OEpao, Loleh, Baa & Lelain ke Jawa untuk mempelajari lebih lanjut agama kristen.
  669. Tidore: kerajaan seluas 78 km² di Maluku Utara yg didirikan oleh orang-orang dari Djaïlolo [sekarang Jailolo] di Pulau Tidore.
  670. Tidung: Kalimantan Timur yg didirikan oleh orang-orang dari Dynasti Tengara [Tarakan].
  671. Tiga Mukims Gighen
  672. Tiga Mukims Klumpang Pajong
  673. Rote: kepulauan di barat daya Pulau Timor, sebuah federasi bentukan Belanda yg terdiri dari 19 kerajaan. Federasi terbentuk dari 1928 sampai 1948.
  674. Rumbati: kerajaan kota di timur Papua.
  675. Sabak: kerajaan kuno di Jambi.
  676. Sumedang Larang: kerajaan Islam yg diperkirakan berdiri sejak abad ke-15 di Jawa Barat.
  677. Sumedang Kamulyan : Kerajaan di Malang Selatan, Kepanjen Kidul Jawa Timur.
  678. Sunda & Galuh: dua kerajaan yg merupaken pecahan dari Kerajaan Tarumanagara.
  679. Sugaluh: kerajaan kecil yg masih berhubungan dengan kerajaan Sunda-Galuh, didirikan pada 1672 oleh keturunan ke-3 Prabu Niskala Wastu Kancana yaitu Yan Amarta Dwija. Kerajaan ini berdiri di daerah gunung Sangkur sampai ke daerah pedalaman Banjar-Pataruman Jawa Barat.
  680. Sungai Kunit: kerajaan di Sumatera Barat.
  681. Sungai Lemau: kerajaan di Bengkulu merupaken lanjutan kerajaan Sungai Serut yg porak poranda akibat perang dengan kerajaan Aceh. Baginda Maharaja Sakti dari Kerajaan Pagarruyung menikah dengan Putri Gading Cempaka anak dari Ratu Agung & diangkat menjadi Raja Sungai Serut..
  682. Sungai Serut: kerajaan pertama di Bengkulu dengan raja Ratu Agung.
  683. Sungairaya
  684. Sungei Iju: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh, di daerah Tamiang, Sumatera.
  685. Tanah Datar: kerajaan seluas 79. 5 km² di Sumatera Timur.
  686. Tanah Jawa: kerajaan di Sumatera Timur.
  687. Tanah Kunu V: kerajaan di Pulau Flores.
  688. Tanahputih: kerajaan kota seluas 633 km² di Sumatera Timur.
  689. Tanah Rea: kerajaan di Pulau Flores.
  690. Tanah Riung: kerajaan di Pulau Sumba.
  691. Tanette: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
  692. Tangse: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  693. Timu: kerajaan di daerah Pulau Sawu.
  694. Titeue: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh, sebelumnya merupaken bagian dari Federasi Hulubalang XII.
  695. Tiro: di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Salah satu kerajaan pertama pemeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan, tempat makam Dato ri Tiro, Karaeng Tonang & Karaeng Samparaja ialah karaeng yg dikenal dari kerajaan ini.
  696. Tjeranti: kerajaan di Sumatera Timur, dibentuk dari pemisahan Kuantan menjadi 5 negara.
  697. Tjereweh
  698. Tjingal: kerajaan di Kalimantan Selatan.
  699. Tjinta Raja: kerajaan seluas 11. 95 km² di Sumatera Timur.
  700. Tjumbok
  701. Tjunda: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
  702. Tobaku: kerajaan di Sulawesi Tengah.
  703. Tohe: kerajaan di Timor Barat.
  704. Tojo: kerajaan di Pulau Togian, Sulawesi Tengah.
  705. Toli Toli: kerajaan di Sulawesi Utara. Dinasti Toli Toli tersambung juga dengan dinasti Buol.
  706. Tomini: kerajaan di Sulawesi Tengah.
  707. Topejawa: kerajaan kota di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.
  708. Toribulu: kerajaan di Sulawesi Tengah.
  709. Trienggadeng: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, di daerah Meureudu, Sumatera.
  710. Tripa, Tripah: kerajaan di Sumatera, jajahan dari Kawai XVI.
  711. Trong
  712. Trumon atau Tarumon: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh yg dibentuk pada 1795.
  713. Truseb: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, yg sebelumnya merupaken bagian dari Federasi Hulubalang XII.
  714. Tulang Bawang: kerajaan hindu di daerah Tulang Bawang, Lampung.
  715. Tungkob: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
  716. Tunjung: kerajaan yg berada di dataran tinggi Tunjung, Kalimantan Timur.
  717. Turateya
  718. Waijelu: kerajaan di Pulau Sumba.
  719. Waijewa: kerajaan di Pulau Sumba.
  720. Waila
  721. Waiwiku Waihale: negara independen atau semi-independen di Timor Barat [Timor Loro Manu].
  722. Wajo: kerajaan yg didirikan pada 1450 oleh pengungsi dari Luwu di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
  723. Wanokaka: kerajaan di Pulau Sumba.
  724. Watlaar: kerajaan di Maluku.
  725. Wertuar: kerajaan di timur Papua.
  726. Wengker: kerajaan di antara gunung Lawu & gunung Wilis [sekarang Ponorogo].
  727. Watu Galuh” kerajaan di hulu kali brantas semasa Bandar Ujung Galuh [Sekarang Surabaya]
  728. Wojila: kerajaan di daerah Sumatra.
  729. Wolijita: kerajaan di Pulau Flores.
  730. Yogyakarta: tahun 1755, Kesultanan Mataram di Jawa Tengah terpisah menjadi dua kerajaan, yaitu Yogyakarta & Surakarta.
  731. Yotowawa
  732. Barru: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
  733. Baruija: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.
  734. Barus: kesultanan yg didirikan oleh Dinasti Pardosi. Wilayahnya memanjang dari Mandailing Natal sampai Tarumon di Singkil.
  735. Barusjahe: kerajaan di Sumatera Timur.
  736. Battoise
  737. Batu Baharang Urung [Federasi]
  738. Batu Kankung: kerajaan di Sumatera Barat.
  739. Batulapa: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
  740. Batoe Litjin: kerajaan di Kalimantan Selatan.
  741. Batulolong: kerajaan di Pulau Pantar, sebelah barat Pulau Alor.
  742. Batu Mbulan
  743. Batuputih
  744. Bau: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.
  745. Beboki: kerajaan di Timor Barat.
  746. Bedagei: kerajaan seluas 337. 52 km² Sumatera Timur, bagian dari Kesultanan Deli.
  747. Bedahulu atau Bedulu: kerajaan kuno di Gianyar, Bali, sekitar abad ke-8 sampai ke-14.
  748. Belu: federasi kerajaan di Timor Barat.
  749. Bendjoar
  750. Bengalon: kerajaan di daerah Sepaso, Kutai Timur.
  751. Benu: kerajaan di Timor Barat [Timor Loro Manu].
  752. Berau, Berouw: kerajaan di Kalimantan Timur.
  753. Berutas
  754. Besiana: kerajaan di Timor Barat.
  755. Besitan: kerajaan seluas 165 km² Sumatera Timur.
  756. Besoa: kerajaan di Sulawesi Tengah.
  757. Beubasan
  758. Beutong: kerajaan bawahan dari Kesultanan Aceh.
  759. Biboki
  760. Bila: kerajaan di Sumatera Timur.
  761. Bilba: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote.
  762. Bima: kerajaan yg eksis pada abad ke-17 di Pulau Sumbawa.
  763. Binamo, Binamu: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan, dibangun pada tahun 1864 sebagai pengganti Turatea & dikuasai oleh Belanda pada 1906.
  764. Bingei: kerajaan seluas 94. 53 km² di Sumatera Timur.
  765. Bintamo: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.
  766. Bintauna: kerajaan di Barat laut Sulawesi.
  767. Binuang: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Selatan.
  768. Birumaru: kerajaan di Sulawesi Tengah, bersatu dengan Dolo dari 1908 menjadi Dolo Birumaru, kemudian terpisah & bergabung dengan Sigi dari 1915 sampai 1929 menjadi Sigi Birumaru.
  769. Blagar: kerajaan di sebelah tenggara Pulau Pantar, arah barat Pulau Alor.
  770. Blambangan: kerajaan yg ada pada akhir era Majapahit di daerah Blambangan, selatan Banyuwangi.
  771. Blahbatuh : Sebuah kerajaan yg merupaken salah satu kerajaan yg berada di desa Blahbatuh, Gianyar yg dipimpin oleh I Gusti Ngurah Jelantik dari kerajaan Gelgel
  772. Blangmangat: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
  773. Blangme, Blang Meh: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
  774. Blang Pedir, Blangpidie: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
  775. Blayu: kerajaan di Bali yg terletak di kecamatan Marga, Tabanan.
  776. Bluek: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
  777. Boalemo: kerajaan di Sulawesi Utara, ditundukkan Belanda pada 1889.
  778. Bobasan: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
  779. Boga Sukudua: kerajaan di daerah Sumatera Timur.
  780. Bohorok: kerajaan seluas 19. 92 km² Sumatera Timur.
  781. Bokai: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote. Didirikan 1756.
  782. Bolaang Itang: negara kota di Sulawesi Utara, bersatu dengan Kaidipang tahun 1912 menjadi Kaidipang Besar.

Jumat, 13 Maret 2015

Keraton Mangkunegaran Surakarta : kebanggaan wong Solo, kebanggaan orang Indonesia. Joglo terbesar ?

Penguasa Mangkunegaran sekarang, Mangkunegara IX, sedang berjalan dari Dalem Ageng ke Pringgitan dalam prosesi Jumenengan ( peringatan naik tahta raja ). Dimulai sungkeman kerabat Puro Mangkunegaran, dilanjutkan doa keselamatan. Terselip kebanggaan, bahwa Indonesia punya keragaman budaya sebanyak ini. Terselip keharuan, keluarga kerajaan bertahan hidup dengan aset budaya seperti ini. Mari bantu mereka melestarikan seni tradisi Indonesia. Berwisata budaya-lah di tanah air. ( foto : skycrapercity )
Penasaran. Seperti apa sih rumah tradisional Jawa Tengah ? Rumah penduduk dan keraton Jawa biasanya terdiri 3 ruangan : Pendopo, Pringgitan dan Dalem. Seperti di pusat kota Solo.
Keraton Mangkunegaran berlokasi di Jalan Ronggowarsito, Surakarta ( Solo ). Penguasa Mangkunegaran disebut Mangkunegara. Secara resmi, bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang yang ke I, II, III, dst. Orisinil. Seolah ditakdirkan mengembalikan segala yang hilang dari Jawa.
Sejak umur 16, Pangeran Sambernyawa ( Mangkunegara I ) berjuang melawan Belanda.
Mangkunegaran dari dinasti Mataram. Pangeran Sambernyawa ( Raden Mas Said ) memulainya. Sejak umur 16 tahun, beliau telah berjuang. Dengan keahlian militernya, Mangkunegara I menghadapi pasukan gabungan Belanda, Pakubuwana III dan pangeran Mangkubumi sekaligus. Gagah berani.
Penguasa Surakarta dan Yogyakarta membangun kekuasaan dengan simbol. Mangkunegara I dengan aksi. Rasionalisasi kekuasaan ini dilanjutkan pewarisnya. Mangkunegaran II. Kerajaan kuat, kawula makmur. Karya sastra terbit dan dirujuk masyarakat Jawa hingga kini. Mangkunegaran menjadi penyeimbang tangguh dan pandai memainkan kartu truf. Tak suka didikte. Tak segan bertindak tegas menghadapi kekuasaan lain yang merongrong wibawa dan eksistensinya.
Setiap generasi raja Mangkunegaran dipersiapkan menjadi pemimpin yang cakap dan cerdik. Putra mahkota, bergelar Pangeran Prangwadana, secara berjenjang diberi beban tanggung jawab sejak remaja. Penguasa Mangkunegaran : Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegara I ( 1757-1795 ), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II ( 1796-1835 ), Mangkunegara III ( 1835-1853 ), Mangkunegara IV ( 1853-1881 ), Mangkunegara V ( 1881-1896 ), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916), Mangkunegara VII ( 1916-1944 ), Mangkunegara VIII (1944-1987 ), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX (1987-sekarang ).
Gaya klasik Eropa pun terasa Jawa di keraton. Kreatif, inovatif, bermartabat.
Keraton Mangkunegaran hari ini. Otoritas wilayahnya tak seluas dulu. Namun, keluarga Mangkunegara tak perlu berkecil hati. Jika NKRI adalah milik kita bersama, maka seluas Indonesia pula kalian bisa berkiprah dan memetik kebanggaan. Suatu hari nanti. We know that. ( foto : skycrapercity )
Mangkunegaran terdiri 2 bangunan utama, Pendopo ( balairung istana, tempat menerima tamu ) dan Dalem ( balairung utama ) yang dikelilingi kediaman keluarga raja. Terbuat dari kayu jati utuh. Keraton indah dan terawat ini dibangun Raden Mas ( 17 Maret 1757 ) setelah pertarungan sengit keluarganya dengan VOC ( East India Company ).
Bangunan yang menghadap ke selatan ini mencermati pertemuan budaya Jawa dan Eropa lalu mengakulturasikannya menjadi milik Jawa. Pendopo beratap joglo baru dibangun masa Mangkunegara IV ( 1866 ). Bangunan Jawa aslinya tak kenal teras. Elemen dari villa Eropa ini lalu diadopsi dengan indah. Gaya klasik dan neo klasik Eropa berpadu dengan semangat neo klasik Jawa. Kolom bulat dari besi cor dan konsolnya menampakkan perpaduan tersebut.
Denah keraton berpola linear dan tertutup. Struktur dinding pemikul menyatukan atap dan dinding. Bukaan jendela dan pintu lebar. Skala ruang tinggi dan luas. Iklim tropis menjadi terasa nyaman. Ornamen dan pahatan secara simbolis menampilkan citra dan fungsi. Empire style menghadirkan kewibawaan raja. Mangkunegaran memang terbuka untuk inovasi dan ide baru.
Bagian timur, Bale Peni, kediaman para pangeran. Bagian barat, Bale Warni, kediaman para putri. Naskah langka agama dan filsafat dalam tulisan Jawa tersimpan di perpustakaan Reksopustoko. Mangkunegara IV membuat perpustakaan di lantai dua ini tahun 1867. Sejarawan dan pelajar mempelajari manuskrip bersampul kulit di sela semilir angin dari jendela kayu yang terbuka lebar. Juga, buku dalam berbagai bahasa, koleksi foto bersejarah dan data perkebunan milik Mangkunegaran.
Pendopo berjoglo terbesar di Indonesia. 10.000 orang tahun 1757 ?
Kereta kencana membawa pangeran tampan dalam sebuah kirab budaya. Seperti melihat film laga kolosal “Saur Sepuh”. Atau Saur Sepuh yang meniru para penghuni keraton ? Saya masih terkagum-kagum dengan budaya kita sendiri. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, semuanya bercita rasa tinggi. Dibalut karya seni adiluhung. Seganteng dan sekreatif itukah leluhur kita ? ( foto : pondrafficial )
Perundingan Giyanti ( 1755 ) membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Raden Mas lalu membangun kediamannya di tepi Sungai Pepe. Keraton berukuran lebih kecil ini terdiri pamedan, pendopo agung, paringgitan, dalem ageng dan keputren. Tembok kokoh mengelilinginya. Memasuki pintu gerbang utama, tampaklah Pamedan, lapangan luas tempat berlatih pasukan Mangkunegaran. Di timur, terlihat Gedung Kavaleri, bekas kantor pasukan berkuda Mangkunegaran. Revitalisasi keraton sekarang didanai pemerintah melalui pemda. Bangunan dipulihkan, sebagian dengan fungsi berbeda. Contohnya, markas legiun Mangkunegaran ini.
Melewati pintu gerbang kedua, terlihat Pendopo Agung seluas 3.500 m2. Pendopo joglo terbesar di Indonesia, menampung 5.000 – 10.000 orang. Tiang kayu persegi yang menyangga atap joglo berasal dari hutan Danalaya di perbukitan Wonogiri. Elemen konstruksi dihubungkan tanpa paku. Di sini, satu set gamelan dimainkan secara rutin, tiga set lainnya untuk upacara khusus. Warna kuning dan hijau ( padi muda ), warna khas keluarga Mangkunegaran. Lampu antik tergantung di langit-langit. Lukisan Kumudawati berwarna terang menampakkan pengaruh Hindu Jawa : 12 belas bintang astrologi dan 8 kotak berwarna. Kuning berarti siaga, biru berarti mencegah bencana, hitam berarti melawan kemarahan, hijau berarti melawan stres, putih berarti melawan hawa nafsu, oranye berarti melawan rasa takut, merah berarti melawan kejahatan, ungu berarti melawan pikiran jahat.
Di belakang Pendopo, terlihat beranda terbuka bernama Pringgitan. Tangga di sana mengarah ke Dalem Ageng seluas 1.000 m2. Dahulu, ruang tidur pengantin kerajaan. Kini, museum keraton Mangkunegaran. Ada Petanen ( tempat bersemayam Dewi Sri ) berlapis sutera tenun di dalamnya. Juga, perhiasan, senjata, pakaian, medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar raja-raja Mangkunegaran dan benda seni lainnya.
Di belakang Dalem Agung, kediaman keluarga Mangkunegaran terlihat seperti rumah pedesaan yang tenang. Pohon, bunga, semak hias menjadi cagar alam bagi burung yang berkicau dan kupu aneka warna. Air mancur menawarkan kesegaran di bawah matahari. Patung klasik gaya Eropa turut menghiasi.
Beranda dalam bersudut delapan menghadap taman ini, bersama tempat lilin dan perabot Eropa. Kaca berbingkai emas berjajar rapi di dinding. Tampak ruang makan mengintip, dengan jendela kaca berwarna ( pemandangan Jawa ), ruang ganti – rias, dan kamar mandi.
Masjid Mangkunegaran, arsitek Perancis ikut mendesain saat pemugarannya.
Denah Masjid Mangkunegaran atau Masjid Al-Wustho ( denah : mulyadi )
Menyeberang jalan raya, Mesjid Mangkunegaran berdiri anggun, seluas 4.200 m2 dan dipagari tembok berbentuk lengkung. Mesjid Lambang Panotogomo ini diprakarsai Mangkunegara I di Kadipaten. Sebelumnya, terletak di wilayah Kauman, Pasar Legi. Pada masa Mangkunegara II, dipindah ke Banjarsari, lebih dekat ke Mangkunegaran. Abdi dalem yang mengelolanya, sehingga mesjid ini berstatus Masjid Kagungan Dalem Puro Mangkunegaran. Mangkunegara VII meminta arsitek Perancis ikut mendesain ( dalam pemugaran ) kompleks mesjid Mangkunegaran.
Masjid Mangkunegaran terdiri : Serambi ( ruang  depan masjid dengan 18 saka, melambangkan umur Raden Mas saat keluar dari Keraton Kasunanan Surakarta, untuk dinobatkan sebagai Adipati Mangkunegaran. Bedug di serambi  bernama Kanjeng Kyai Danaswara ), Ruang Sholat Utama ( ruang dalam dengan 4 saka guru dan 12 penyangga berhiaskan kaligrafi Qur’an. Kaligrafi juga ditemui di pintu gerbang, kuncungan, saka dan maligin ), Pawestren ( tempat sholat khusus wanita ), Maligin ( tempat khitanan putra kerabat Mangkunegaran. Mangkunegaran VII kemudian memperkenankan Muhammadiyah menggunakannya untuk khitanan umum ), Menara ( dibangun tahun 1926, masa Mangkunegaran VII. Di minaret, 4  muadzin mengumandangkan azan ke empat arah berbeda ). KH Imam Rosidi ( penghulu Mangkunegaran ) menamai Masjid Mangkunegaran ini Masjid Al-Wustho ( tahun 1949 ).
Bertahan dengan aset budaya. Pengorbanan keluarga kerajaan se-nusantara untuk NKRI.
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kediaman keluarga Pakubuwana, lengkap dengan Alun-alun khas Jawa. Pusat pemerintahan Jawa ini kemudian terbagi menjadi Kasunanan, Mangkunegaran dan Yogyakarta. Gara-gara kompeni sih.. ( foto : zalfayahya )
Menurut Sudarmono ( sejarawan UNS ), Raden Mas Said sudah mengukuhkan diri sebagai raja dengan Deklarasi Adeging Pura Mangkunegaran ( 24 Februari 1757 ). Sesudah NKRI terbentuk, disusul penghapusan swapraja ( sekitar 1950-an ) dan pemberlakuan UU Pokok Agraria ( 1960 ), otoritas kerajaan di nusantara menciut. Dalam Babad Giyanti dan Babad Lalampahan, Pangeran Sambernyawa dikukuhkan sebagai adipati yang menguasai wilayah Kadaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Dalam peta sekarang, wilayah tersebut menembus wilayah Karesidenan Surakarta, Kedu, bahkan Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ). Kenyataan, otoritas Mangkunegaran sekarang tinggal selebar keraton ini.
Mas Ngabehi Supriyanto Waluyo berpakaian layaknya masyarakat umum, meski di lingkungan istana. Sebagai abdi dalem, ia berpakaian adat jika ada acara resmi kerajaan. Abdi dalem pun tinggal 300 orang. Yang setiap hari di lingkungan istana hanya 150 orang. Kini, Mangkunegaran hanya memiliki 3 kantor departemen : Mandrapura ( bagian umum ), Kawedanan Kasatriyan ( mengurus peninggalan sejarah ) dan Reksa Budaya ( perpustakaan dan aktivitas budaya ). Untuk menjaga eksistensinya, Mangkunegaran memanfaatkan subsidi pemerintah. Selebihnya, bertahan dengan aset budaya.
Sudah terbayang sekarang, bagaimana rumah tradisional orang Jawa ? Berkunjunglah supaya lebih mantap. Monggo..
——————–
( Sabtu – Minggu 25-26 Juni 2011, lebih 300 bangsawan ( raja, sultan, ratu, putra mahkota, pangeran, putri raja dan kerabat kerajaan ) akan menghadiri acara “Silaturahmi Nasional Raja dan Sultan se-Nusantara ke-2 ” ( Silatnas II ) di Gedung Merdeka, Bandung. Bahkan, bangsawan dari mancanegara, seperti dari Filipina dan Afrika, turut hadir. Wah, weekend di Bandung kian meriah saja. Seperti apa sih wujud mereka ? Apa perjuangan mereka ? Kita simak, yuk .. )
Awal perkembangan Kerajaan Mataram Islam
Kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1582. Pusat Kerajaan ini terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Para raja yang pernah memerintah di Kerajaan Mataram yaitu : Penembahan Senopati (1584-1601), Panembahan Seda Krapyak (1601-1677).
Dalam sejarah Islam,Kesultanan mataram memiliki peran yang cukup penting dalam perjalanan secara kerajaan-kerajaan islam di Nusantara (Indonesia). Hal ini terlihat dari semangat raja-raja untuk memperluas daerah kekuasaan dan mengislamkan para penduduk daerah kekuasaannya, keterlibatan para pemuka agama, hingga pengembangan kebudayaan yang bercorak islam di Jawa.
Pada awalnya daerah mataram dikuasai kesultanan pajang sebagai balas jasa atas perjuangan dalam mengalahkan Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya menghadiahkan daerah mataram kepada Ki Ageng Pemanahan. Selanjutnya, oleh ki Ageng Pemanahan Mataram dibangun sebagai tempat permukiman baru dan persawahan.
Akan tetapi, kehadirannya di daerah ini dan usaha pembangunannya mendapat berbagai jenis tanggapan dari para penguasa setempat. Misalnya, Ki Ageng Giring yang berasal dari wangsa Kajoran secara terang-terangan menentang kehadirannya. Begitu pula ki Ageng tembayat dan Ki Ageng Mangir. Namun masih ada yang menerima kehadirannya, misalnya ki Ageng Karanglo. Meskipun demikian, tanggapan dan sambutan yang beraneka itu tidak mengubah pendirian Ki Ageng Pemanahan untuk melanjutkan pembangunan daerah itu. ia membangun pusat kekuatan di plered dan menyiapkan strategi untuk menundukkan para penguasa yang menentang kehadirannya.
Pada tahun 1575, Pemahanan meninggal dunia. Ia digantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Di samping bertekad melanjutkan mimpi ayahandanya, ia pun bercita-cita membebaskan diri dari kekuasaan pajang. Sehingga, hubungan antara mataram dengan pajang pun memburuk.Hubungan yang tegang antara sutawijaya dan kesultanan Pajang akhirnya menimbulkan peperangan. Dalam peperangan ini, kesultanan pajang mengalami kekalahan. Setelah penguasa pajak yakni hadiwijaya meninggal dunia (1587), Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja Mataram dengan gelar penembahan Senopati Ing Alaga. Ia mulai membangun kerajaannya dan memindahkan senopati pusat pemerintahan ke Kotagede. Untuk memperluas daerah kekuasaanya, penembahan senopati melancarkan serangan-serangan ke daerah sekitar. Misalnya dengan menaklukkan Ki Ageng Mangir dan Ki Ageng Giring.
Daerah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam
daerah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam Pada tahun 1590, penembahan senopati atau biasa disebut dengan senopati menguasai madiun, yang waktu itu bersekutu dengan surabaya. Pada tahun 1591 ia mengalahkan kediri dan jipang, lalu melanjutkannya dengan penaklukkan Pasuruan dan Tuban pada tahun 1598-1599.
Sebagai raja islam yang baru, panembahan senopati melaksanakan penaklukkan-penaklukan itu untuk mewujudkan gagasannya bahwa mataram harus menjadi pusat budaya dan agama islam, untuk menggantikan atau melanjutkan kesultanan demak. Disebutkan pula dalam cerita babad bahwa cita-cita itu berasal dari wangsit yang diterimanya dari Lipura (desa yang terletak di sebelah barat daya Yogyakarta). Wangsit datang setelah mimpi dan pertemuan senopati dengan penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, ketika ia bersemedi di Parangtritis dan Gua Langse di Selatan Yogyakarta. Dari pertemuan itu disebutkan bahwa kelak ia akan menguasai seluruh tanah Jawa.

B. Sistem Pemerintahan
Sistem pemerintahan yang dianut Kerajaan mataram islam adalah sistem Dewa-Raja. Artinya pusat kekuasaan tertinggi dan mutlak adaa pada diri sultan. Seorang sultan atau raja sering digambarkan memiliki sifat keramat, yang kebijaksanaannya terpacar dari kejernihan air muka dan kewibawannya yang tiada tara. Raja menampakkan diri pada rakyat sekali seminggu di alun-alun istana.
Selain sultan, pejabat penting lainnya adalah kaum priayi yang merupakan penghubung antara raja dan rakyat. Selain itu ada pula panglima perang yang bergelar Kusumadayu, serta perwira rendahan atau Yudanegara. Pejabat lainnya adalah Sasranegara, pejabat administrasi.
Dengan sistem pemerintahan seperti itu, Panembahan senopati terus-menerus memperkuat pengaruh mataram dalam berbagai bidang sampai ia meninggal pada tahun 1601. ia digantikan oleh putranya, Mas Jolang atau Penembahan Sedaing Krapyak (1601 – 1613). Peran mas Jolang tidak banyak yang menarik untuk dicatat. Setelah mas jolang meninggal, ia digantikan oleh Mas Rangsang (1613 – 1645). Pada masa pemerintahannyalah Mataram mearik kejayaan. Baik dalam bidang perluasan daerah kekuasaan, maupun agama dan kebudayaan.
Pangeran Jatmiko atau Mas Rangsang Menjadi raja mataram ketiga. Ia mendapat nama gelar Agung Hanyakrakusuma selama masa kekuasaan, Agung Hanyakrakusuma berhasil membawa Mataram ke puncak kejayaan dengan pusat pemerintahan di Yogyakarta. Gelar “sultan” yang disandang oleh Sultan Agung menunjukkan bahwa ia mempunyai kelebihan dari raja-raja sebelumnya, yaitu panembahan Senopati dan Panembahan Seda Ing Krapyak. Ia dinobatkan sebagai raja pada tahun 1613 pada umur sekitar 20 tahun, dengan gelar “Panembahan”. Pada tahun 1624, gelar “Panembahan” diganti menjadi “Susuhunan” atau “Sunan”. Pada tahun 1641, Agung Hanyakrakusuma menerima pengakuan dari Mekah sebagai sultan, kemudian mengambil gelar selengkapnya Sultan Agung Hanyakrakusuma Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman.
Karena cita-cita Sultan Agung untuk memerintah seluruh pulau jawa, kerajaan Mataram pun terlibat dalam perang yang berkepanjangan baik dengan penguasa-penguasa daerah, maupun dengan kompeni VOC yang mengincar pulau Jawa.
Pada tahun 1614, sultan agung mempersatukan kediri, pasuruan, lumajang, dan malang. Pada tahun 1615, kekuatan tentara mataram lebih difokuskan ke daerah wirasaba, tempat yang sangat strategis untuk menghadapi jawa timur. Daerah ini pun berhasil ditaklukkan. pada tahun 1616, terjadi pertempuran antara tentara mataram dan tentara surabaya, pasuruan, Tuban, Jepara, wirasaba, Arosbaya dan Sumenep. Peperangan ini dapat dimenangi oleh tentara mataram, dan merupakan kunci kemenangan untuk masa selanjutnya. Di tahun yang sama Lasem menyerah. Tahun 1619, tuban dan Pasuruan dapat dipersatukan. Selanjutnya mataram berhadapan langsung dengan Surabaya. Untuk menghadapi surabaya, mataram melakukan strategi mengepung, yaitu lebih dahulu menggempur daerah-daerah pedalaman seperti Sukadana (1622) dan Madura (1624). Akhirnya, Surabaya dapat dikuasai pada tahun 1625.
Dengan penaklukan-penaklukan tersebut, Mataram menjadi kerajaan yang sangat kuat secara militer. Pada tahun, 1627, seluruh pulau jawa kecuali kesultanan Banten dan wilayah kekuasaan kompeni VOC di Batavia ttelah berhasil dipersatukan di bawah mataram. Sukses besar tersebut menumbuhkan kepercayaan diri sultan agung untuk menantang kompeni yang masih bercongkol di Batavia. Maka, pada tahun 1628, Mataram mempersiapkan pasukan di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa dan Tumenggung Sura Agul-agul, untuk mengempung Batavia.
Sayang sekali, karena kuatnya pertahanan Belanda, serangan ini gagal, bahkan tumenggung Baureksa gugur. Kegagalan tersebut menyebabkan matara bersemangat menyusun kekuatan yang lebih terlatih, dengan persiapan yang lebih matang. Maka pada pada 1629, pasukan Sultan Agung kembali menyerbu Batavia. Kali ini, ki ageng Juminah, Ki Ageng Purbaya, ki Ageng Puger adalah para pimpinannya. Penyerbuan dilancarkan terhadap benteng Hollandia, Bommel, dan weesp. Akan tetapi serangan ini kembali dapat dipatahkan, hingga menyebabkan pasukan mataram ditarik mundur pada tahun itu juga. Selanjutnya, serangan mataram diarahkan ke blambangan yang dapat diintegrasikan pada tahun 1639.
Sayang sekali, karena kuatnya pertahanan Belanda, serangan ini gagal, bahkan tumenggung Baureksa gugur. Kegagalan tersebut menyebabkan matara bersemangat menyusun kekuatan yang lebih terlatih, dengan persiapan yang lebih matang. Maka pada pada 1629, pasukan Sultan Agung kembali menyerbu Batavia. Kali ini, ki ageng Juminah, Ki Ageng Purbaya, ki Ageng Puger adalah para pimpinannya. Penyerbuan dilancarkan terhadap benteng Hollandia, Bommel, dan weesp. Akan tetapi serangan ini kembali dapat dipatahkan, hingga menyebabkan pasukan mataram ditarik mundur pada tahun itu juga. Selanjutnya, serangan mataram diarahkan ke blambangan yang dapat diintegrasikan pada tahun 1639.
Bagi Sultan Agung, Kerajaan Mataram adalah kerajaan islam yang mengemban amanat Tuhan di tanah Jawa. Oleh sebab itu, struktur serta jabatan kepenghuluan dibangun dalam sistem kekuasaan kerajaan. Tradisi kekuasaan seperti sholat jumat di masjid, grebeg ramadan, dan upaya pengamanalan syariat islam merupakan bagian tak terpisahkan dari tatanan istana.
Sultan agung juga berprediksi sebagai pujangga. Karyanya yang terkenal yaitu kitab Serat Sastra Gendhing. Adapun kitab serat Nitipraja digubahnya pada tahun 1641 M. Serat sastra Gendhing berisi tetang budi pekerti luhur dan keselarasan lahir batin. Serat Nitipraja berisi tata aturan moral, agar tatanan masyarakat dan negara dapat menjadi harmonis. Selain menulis, Sultan Agung juga memerintahkan para pujangga kraton untuk menulis sejarah babad tanah Jawi.
Di antara semua karyanya , peran sultan agung yang lebih membawa pengaruh luas adalah dalam penanggalan. Sultan agung memadukan tradisi pesantren islam dengan tradisi kejawen dalam perhitungan tahun. Masyarakat pesantren biasa menggunakan tahun hijriah, masyarakat kejawen menggunakan tahun Caka atau saka. Pada tahun 1633, Sultan Agung berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya sistem perhitungan tahun yang baru bagi seluruh mataram. Perhitungan itu hampir seluruhnya disesuaikan dengan tahun hijriah, berdasarkan perhitungan bulan. Namun, awal perhitungan tahun jawa ini tetap sama dengan tahun saka, yaitu 78 m. Kesatuan perhitungan tahun sangat penting bagi penulisan serat babad. Perubahan perhitungan itu merupakan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan proses pengislaman tradisi dan kebudayaan jawa yang sudah terjadi sejak berdirinya kerajaan demak. Hingga saat ini, sistem penanggalan ala sultan Agung ini masih banyak digunakan.
Sejak masa sebelum sultan Agung pembangunan non-militer memang telah dilakukan. Satu yang layak disebut, panembahan Senopati menyempurnakan bentuk wayang dengan tatanan gempuran. Setelah zaman senopati, mas jolang juga berjasa dalam kebudayaan, dengan berusaha menyusun sejarah negeri demak, serta menulis beberapa kitap suluk. Misalnya Sulu Wujil (1607 M) yang berisi wejangan Sunan bonang kepada abdi raja majapahit yang bernama Wujil. Pangeran Karanggayam juga menggubah Serat Nitisruti (1612 m) pada masa mas jolang.
Menjelang akhir hayatnya. Sultan Agung menerapkan peraturan yang bertujuan mencegah perebutan tahta, antara keluarga raja dan putra mahkota. Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram tidak hanya menjadi pusat kekuasaan, tapi juga menjadi pusat penyebaran islam.

C. Kemajuan yang dicapai pada masa pemerintahan Sultan Agung Kemajuan yang dicapai meliputi kemajuan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya, yaitu :

a. Bidang Politik
Kemajuan politik yang dicapai Sultan Agung adalah menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan menyerang Belanda di Batavia.
a. Penyatuan kerajaan-kerajaan Islam
Sultan Agung berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Usaha inidimulai dengan menguasai Gresik, Jaratan, Pamekasan, Sumenep, Sampang,Pasuruhan, kemudian Surabaya. Salah satu usahanya mempersatukan kerajaan Islamdi Pulau Jawa ini ada yang dilakukan dengan ikatan perkawinan. Sultan Agung mengambil menantu Bupati Surabaya Pangeran Pekik dijodohkan dengan putrinya yaitu Ratu Wandansari
b. Anti penjajah Belanda
Sultan Agung adalah raja yang sangat benci terhadap penjajah Belanda. Hal ini terbukti dengan dua kali menyerang Belanda ke Batavia, yaitu yang pertama tahun 1628 dan yang kedua tahun 1629. Kedua penyerangan ini mengalami kegagalan.Adapun penyebab kegagalannya, antara lain:
- Jarak yang terlalu jauh berakibat mengurangi ketahanan prajurit mataram. Mereka harus menempuh jalan kaki selama satu bulan dengan medan yang sangat sulit.
- Kekurangan dukungan logistik menyebabkan pertahanan prajurit Mataram di Batavia menjadi lemah.
- Kalah dalam sistem persenjataan dengan senjataa yang dimiliki kompeni Belanda yang serba modern.
- Banyak prajurit Mataram yang terjangkit penyakit dan meninggal, sehingga semakin memperlemah kekuatan.
- Portugis bersedia membantu Mataram dengan menyerang Batavia lewat laut,sedangkan Mataram lewat darat. Ternyata Portugis mengingkari. Akhirnya Mataram dalam menghadapai Belanda tanpa bantuan Portugis.
- Kesalahan politik Sultan Agung yang tidak menadakan kerja sama dengan Banten dalam menyerang Belanda. Waktu itu mereka saling bersaing.
- Sistem koordinasi yang kurang kompak antara angkatan laut dengan angkatan darat. Ternyata angkatan laut mengadakan penyerangan lebih awal sehingga rencana penyerangan Mataram ini diketahui Belanda.
- Akibat penghianatan oleh salah seorang pribumi, sehingga rencana penyerangan ini diketahui Belanda sebelumnya.

b. Bidang Ekonomi
Kemajuan dalam bidang ekonomi meliputi hal-hal berikut ini:

- Sebagai negara agraris, Mataram mampu meningkatkan produksi beras dengan memanfaatkan beberapa sungai di Jawa sebagai irigasi. Mataram juga mengadakan pemindahan penduduk (transmigrasi) dari daerah yang kering ke daerah yang subur dengan irigasi yang baik. Dengan usaha tersebut, Mataram banyak mengekspor beras ke Malaka.
- Penyatuan kerajaan-kerajaan Islam di pesisir Jawa tidak hanya menambah kekuatan politik,tetapi juga kekuatan ekonomi. Dengan demikian ekonomi Mataram tidak semata-mata tergantung ekonomi agraris, tetapi juga karena pelayaran dan perdagangan.
c. Bidang sosial Budaya
Kemajuan dalam bidang sosial budaya meliputi hal-hal berikut:

a. Timbulnya kebudayaan kejawen
Unsur ini merupakan akulturasi dan asimilasi antara kebudayaan asli Jawa denganIslam. Misalnya upacara Grebeg yang semula merupakan pemujaan roh nenek moyang. Kemudian, dilakukan dengan doa-doa agama Islam. Sampai kini, di jawa kita kenal sebagai Grebeg Syawal, Grebeg Maulud dan sebagainya.

b. Perhitungan Tarikh Jawa
Sultan Agung berhasil menyusun tarikh Jawa. Sebelum tahun 1633 M, Mataram menggunakan tarikh Hindu yang didasarkan peredaran matahari (tarikh syamsiyah).Sejak tahun 1633 M (1555 Hindu), tarikh Hindu diubah ke tarikh Islam berdasarkan peredaran bulan (tarikh komariah). Caranya, tahun 1555 diteruskan tetapi dengan perhitungan baru berdasarkan tarikh komariah. Tahun perhitungan Sultan Agung ini kemudian dikenal sebagai“tahun Jawa”.

c. Berkembangnya Kesusastraan Jawa
Pada zaman kejayaan Sultan Agung, ilmu pengetahuan dan seni berkembang pesat,termasuk di dalamnya kesusastraan Jawa. Sultan Agung sendiri mengarang kitab yang berjudul Sastra Gending yang merupakan kitab filsafat kehidupan dan kenegaraan.Kitab-kitab yang lain adalah Nitisruti, Nitisastra, dan Astrabata. Kitab-kitab ini berisi tentang ajaran-ajaran budi pekerti yang baik.Pengaruh Mataram mulai memudar setelah Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 M.Selanjutnya, Mataram pecah menjadi dua, sebagaimana isi Perjanjian Giyanti (1755) berikut:
- Mataram Timur yang dikenal Kesunanan Surakarta di bawah kekuasaan Paku Buwono III dengan pusat pemerintahan di Surakarta.
- Mataram Barat yang dikenal dengan Kesultanan Yogyakarta di bawah kekuasaan Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I dengan pusat pemerintahannya di Yogyakarta.Perkembangan berikutnya, Kesunanan Surakarta pecah menjadi dua yaitu Kesunanan dan Mangkunegaran (Perjanjian Salatiga 1757). Kesultanan Yogyakarta juga terbagi atas Kesultanan dan Paku Alaman. Perpecahan ini terjadi karena campur tangan Belanda dalam usahanya memperlemah kekuatan Mataram, sehingga mudah untuk di kuasai.Sultan Agung meninggal pada Februari 1646. ia dimakamkan di puncak Bukit Imogiri, Bantul ,Yogyakarta. Selanjutnya,Mataram diperintah oleh putranya, SunanTegalwangi, dengan gelar Amangkurat I ( 1646 – 1677). Dalam masa pemerintahan Amangkurat I, kerajaan mataram mulai mundur. Wilayah kekuasaan mataram berangsur-angsur menyempit karena direbut oleh kompeni VOC. Yang paling mengenaskan, pada tahun1675, Rade Trunajaya dari Madura memberontak. Pemberontakannya demikian tak terbendung, sampai-sampai Trunajaya berhasil menguasai keraton Mataram yang waktu ituteletak di Plered. Amangkurat terlunta-lunta mengungsi, dan akhirnya meninggal di Tegal.Sepeninggal Amangkurat I, Mataram dipegang oleh Amangkurat II yang menurunkanDinasti Paku Buwana di Solo dan Hamengku Buwana di Yogyakarta. Amangkurat II meminta bantuan VOC untuk memadamkan pemberontakan Trunajaya. Setelah berakhirnya Perang Giyanti (1755), wilayah kekuasaan mataram semakin terpecah belah. Berdasarkan perjanjian giyanti, mataram dipecah menjadi dua, yakni mataram sukrakarta dan mataram yogyakarta. Pada tahun 1757 dan 1813, perpecahan terjadi lagi dengan munculnya Mangkunegara dan pakualaman. Di masa pemerintahan Hindia Belanda, keempat pecahan kerajaan mataram ini disebut sebagai vorstenlanden. Saat ini, keempat pecahan Kesultanan Mataram tersebut masih melanjutkan dinasti masing-masing. Bahkan peran dan pengaruh pecahan mataram tersebut, terutama kesultanan Yogyakarta masih cukup besar dan diakui masyarakat.

Aspek Kehidupan Sosial
Kehidupan masyarakat di kerajaan Mataram, tertata dengan baik berdasarkan hukum Islam tanpa meninggalkan norma-norma lama begitu saja. Dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Islam, Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, kemudian diikuti oleh sejumlah pejabat kerajaan. Di bidang keagamaan terdapat penghulu, khotib, naid, dan surantana yang bertugas memimpin upacara-upacara keagamaan. Di bidang pengadilan,dalam istana terdapat jabatan jaksa yang bertugas menjalankan pengadilan istana. Untuk menciptakan ketertiban di seluruh kerajaan, diciptakan peraturan yang dinamakan anger-anger yang harus dipatuhi oleh seluruh penduduk

Aspek Kehidupan Ekonomi dan Kebudayaan
Kerajaan Mataram adalah kelanjutan dari Kerajaan Demak dan Pajang. Kerajaan ini menggantungkan kehidupan ekonominya dari sektor agraris. Hal ini karena letaknya yang berada di pedalaman. Akan tetapi, Mataram juga memiliki daerah kekuasan di daerah pesisir utara Jawa yang mayoritas sebagai pelaut. Daerah pesisir inilah yang berperan penting bagi arus perdagangan Kerajaan Mataram. Kebudayaan yang berkembang pesat pada masa Kerajaan Mataram berupa seni tari, pahat, suara, dan sastra. Bentuk kebudayaan yang berkembang adalah Upacara Kejawen yang merupakan akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha dengan Islam. Di samping itu, perkembangan di bidang kesusastraan memunculkan karya sastra yang cukup terkenal, yaitu Kitab Sastra Gending yang merupakan perpaduan dari hukum Islam dengan adat istiadat Jawa yang disebut Hukum Surya Alam.E.

Puncak Kejayaan Mataram Islam
Mataram Islam mencapai puncak kejayaannya pada jaman Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1646). Daerah kekuasaannya mencakup Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia), Pulau Madura, dan daerah Sukadana di Kalimantan Barat. Pada waktu itu, Batavia dikuasai VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie ) Belanda.Kekuatan militer Mataram sangat besar. Sultan Agung yang sangat anti kolonialisme itumenyerang VOC di Batavia sebanyak dua kali (1628 dan 1629). Menurut Moejanto sepertiyang dikutip oleh Purwadi (2007), Sultan Agung memakai konsep politik keagungbinataran yang berarti bahwa kerajaan Mataram harus berupa ketunggalan, utuh, bulat, tidak tersaingi,dan tidak terbagi-bagi.

Kemunduran Mataram Islam
Kemunduran Mataram Islam berawal saat kekalahan Sultan Agung merebut Batavia dan menguasai seluruh Jawa dari Belanda. Setelah kekalahan itu, kehidupan ekonomi rakyat tidak terurus karena sebagian rakyat dikerahkan untuk berperang.

D. Silsilah Raja dan Sistem Pemerintahan Image and video hosting by TinyPic
1. Ki Ageng Pamanahan ( Ki Gede Pamanahan )
- Pendiri desa mataram tahun 1556
- bergelar Panembahan Senapati dibawah pimpinan anaknya
- Ki Pamanahan adalah putra Ki Ageng Henis, putra Ki Ageng Sela
- menikah dengan sepupunya sendiri, yaitu Nyai Sabinah, putri Nyai Ageng Saba (kakak perempuan Ki Ageng Henis).
- Ki Pamanahan dan adik angkatnya, yang bernama Ki Penjawi, mengabdi pada Hadiwijaya bupati Pajang (murid Ki Ageng Sela ) Keduanya dianggap kakak oleh raja dan dijadikan sebagai lurah wiratamtama di Pajang.
- Hadiwijaya singgah ke Gunung Danaraja. Ki Pamanahan bekerja sama dengan Ratu Kalinyamat membujukHadiwijaya supaya bersedia menghadapi Arya Penangsang. Sebagai hadiah, Ratu Kalinyamat memberikan cincin pusakanya kepada Ki Pamanahan.
- Meninggal tahun 1584
2. Sutawijaya ( Danang sutawijaya )
- pendiri Kesultanan Mataram yang memerintah sebagai raja pertama pada tahun 1587-1601
- bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa
- dianggap sebagai peletak dasar-dasar Kesultanan Mataram.
- putra sulung pasangan Ki Ageng Pamanahan dan Nyai Sabinah
- Menurut naskah-naskah babad, ayahnya adalah keturunan Brawijaya raja terakhir Majapahit, sedangkan ibunya adalah keturunan Sunan Giri anggota Walisanga
- Nyai Sabinah memiliki kakak laki-laki bernama Ki Juru Martani, yang kemudian diangkat sebagai patih pertama Kesultanan Mataram. Ia ikut berjasa besar dalam mengatur strategi menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549.
- Sutawijaya juga diambil sebagai anak angkat oleh Hadiwijaya bupati Pajang sebagai pancingan, karena pernikahan Hadiwijaya dan istrinya sampai saat itu belum dikaruniai anak. Sutawijaya kemudian diberi tempat tinggal di sebelah utara pasar sehingga ia pun terkenal dengan sebutan Raden Ngabehi Loring Pasar.
- Sayembara menumpas Arya Penangsang tahun 1549 merupakan pengalaman perang pertama bagi Sutawijaya. Ia diajak ayahnya ikut serta dalam rombongan pasukan supaya Hadiwijaya merasa tidak tega dan menyertakan pasukan Pajang sebagai bala bantuan. Saat itu Sutawijaya masih berusia belasan tahun.
- meninggal dunia pada tahun 1601 saat berada di desa Kajenar. Ia kemudian dimakamkan di Kotagede.
3. Raden Mas Jolang ( Panembahan Hanyakrawati / Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram )
- raja kedua Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1601-1613
- putra Panembahan Senapati raja pertama Kesultanan Mataram. Ibunya bernama Ratu Mas Waskitajawi, putri Ki Ageng Panjawi, penguasa Pati
- Ketika menjabat sebagai Adipati Anom (putra mahkota), Mas Jolang menikah dengan Ratu Tulungayu putri dari Ponorogo. Namun perkawinan tersebut tidak juga dikaruniai putra, kemudian menikah lagi dengan Dyah Banowati putri Pangeran Benawa raja Pajang. Dyah Banowati yang kemudian bergelar Ratu Mas Hadi melahirkan Raden Mas Rangsang dan Ratu Pandansari (kelak menjadi istri Pangeran Pekik). Empat tahun setelah Mas Jolang naik takhta, ternyata Ratu Tulungayu melahirkan seorang putra bernama Raden Mas Wuryah alias Adipati Martapura. Padahal saat itu jabatan adipati anom telah dipegang oleh Mas Rangsang.
- Pada tahun 1610 melanjutkan usaha ayahnya, yaitu menaklukkan Surabaya, musuh terkuat Mataram. Serangan-serangan yang dilakukannya sampai akhir pemerintahannya tahun 1613 hanya mampu memperlemah perekonomian Surabaya namun tidak mampu menjatuhkan kota tersebut. Serangan pada tahun 1613 sempat menyebabkan pos-pos VOC di Gresik dan Jortan ikut terbakar. Sebagai permintaan maaf, Hanyakrawati mengizinkan VOC mendirikan pos dagang baru di Jepara. Ia juga mencoba menjalin hubungan dengan markas besar VOC di Ambon.
- meninggal dunia pada tahun 1613 karena kecelakaan sewaktu berburu kijang di Hutan Krapyak. Oleh karena itu, ia pun terkenal dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak, atau cukup Panembahan Seda Krapyak, yang bermakna "Baginda yang wafat di Krapyak"
4. Raden Mas Rangsang (Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma )( nama asli : Raden Mas Jatmika )
- lahir: Kutagede, Kesultanan Mataram, 1593 - wafat: Karta (Plered, Bantul), Kesultanan Mataram, 1645
- raja ketiga Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645
- Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada saat itu.( puncak kejayaan )
- Atas jasa-jasanya sebagai pejuang dan budayawan, Sultan Agung telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal3 November 1975.
- putra dari pasangan Prabu Hanyakrawati dan Ratu Mas Adi Dyah Banawati.( putri Pangeran Benawa raja Pajang ( Dyah Banowati ))
- Pada tahun 1620 pasukan Mataram mulai mengepung kota Surabaya secara periodik.
- kemunduran kerajaan mataram Islam akibat kalah dalam perang merebut Batavia dengan VOC
- menyerang Batavia sebanyak 2x.
serangan pertama ( 1628 ) terjadi di benteng Holandia, dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa, dan Pangeran Mandurareja sebanyak 10.000 pasukan akan tetapi gagal. Kegagalan serangan pertama diantisipasi dengan cara mendirikan lumbung-lumbung beras di Karawang dan Cirebon. Namun pihak VOC berhasil memusnahkan semuanya. Serangan kedua ( 1629 ) dipimpin Adipati Ukur dan Adipati Juminah Total semua 14.000 orang prajurit. serangan kedua Sultan Agung berhasil membendung dan mengotori Sungai Ciliwung, yang mengakibatkan timbulnya wabah penyakit kolera melanda Batavia. Gubernur jenderal VOC yaitu J.P. Coen meninggal menjadi korban wabah tersebut.
5. Amangkurat I (Sri Susuhunan Amangkurat Agung)
- Memerintah pada tahun 1646-1677
- Memiliki gelar anumertaSunan Tegalwangi atau Sunan Tegalarum
- Nama aslinya adalah Raden Mas Sayidin putra Sultan Agung. Ibunya bergelar Ratu Wetan, yaitu putri Tumenggung Upasanta bupatiBatang (keturunan Ki Juru Martani).
- Ketika menjabat Adipati Anom ia bergelar Pangeran Arya Prabu Adi Mataram.
- memiliki dua orang permaisuri. Putri Pangeran Pekik dari Surabaya menjadi Ratu Kulon yang melahirkan Raden Mas Rahmat, kelak menjadi Amangkurat II. Sedangkan putri keluarga Kajoran menjadi Ratu Wetan yang melahirkan Raden Mas Drajat, kelak menjadi Pakubuwana I.
- mendapatkan warisan Sultan Agung berupa wilayah Mataram yang sangat luas
- menerapkan sentralisasi atau sistem pemerintahan terpusat.
- Pada tahun 1647 ibu kota Mataram dipindah ke Plered. Perpindahan istana tersebut diwarnai pemberontakan Raden Mas Alit atau Pangeran Danupoyo, adik Amangkurat I yang menentang penumpasan tokoh-tokoh senior. Pemberontakan ini mendapat dukungan para ulama namun berakhir dengan kematian Mas Alit. Amangkurat I ganti menghadapi para ulama. Mereka semua, termasuk anggota keluarganya, sebanyak 5.000 orang lebih dikumpulkan di alun-alun untuk dibantai.
- Amangkurat I menjalin hubungan dengan VOC yang pernah diperangi ayahnya. Pada tahun 1646 ia mengadakan perjanjian, antara lain pihak VOC diizinkan membuka pos-pos dagang di wilayah Mataram, sedangkan pihak Mataram diizinkan berdagang ke pulau-pulau lain yang dikuasai VOC. Kedua pihak juga saling melakukan pembebasan tawanan. Perjanjian tersebut oleh Amangkurat I dianggap sebagai bukti takluk VOC terhadap kekuasaan Mataram. Namun ia kemudian tergoncang saat VOC merebut Palembang tahun 1659.
- hubungan diplomatik Mataram dan Makasar yang dijalin Sultan Agung akhirnya hancur di tangan putranya setelah tahun 1658. Amangkurat I menolak duta-duta Makasar dan menyuruh Sultan Hasanuddin datang sendiri ke Jawa. Tentu saja permintaan itu ditolak.
- tanggal 28 Juni 1677 Trunajaya berhasil merebut istana Plered. Amangkurat I dan Mas Rahmat melarikan diri ke barat.Babad Tanah Jawi menyatakan, dengan jatuhnya istana Plered menandai berakhirnya Kesultanan Mataram. Pelarian Amangkurat I membuatnya jatuh sakit dan meninggal pada 13 Juli 1677 di desa Wanayasa, Banyumas dan berwasiat agar dimakamkan dekat gurunya di Tegal
6. Amangkurat II (Nama asli Amangkurat II ialah Raden Mas Rahmat )
- putra Amangkurat I raja Mataram yang lahir dari Ratu Kulon putri Pangeran Pekikdari Surabaya.
- memiliki banyak istri namun hanya satu yang melahirkan putra (kelak menjadi Amangkurat III)
- Pada bulan September 1680 Amangkurat II membangun istana baru di hutan Wanakerta karena istana Plered diduduki adiknya, yaituPangeran Puger. Istana baru tersebut bernama Kartasura.
- Amangkurat II akhirnya meninggal dunia tahun 1703. Sepeninggalnya, terjadi perebutan takhta Kartasura antara putranya, yaituAmangkurat III melawan adiknya, yaitu Pangeran Puger.
- Pada bulan September 1677 diadakanlah perjanjian di Jepara. Pihak VOC diwakili Cornelis Speelman. Daerah-daerah pesisir utaraJawa mulai Kerawang sampai ujung timur digadaikan pada VOC sebagai jaminan pembayaran biaya perang Trunajaya.
- Mas Rahmat pun diangkat sebagai Amangkurat II, seorang raja tanpa istana. Dengan bantuan VOC, ia berhasil mengakhiri pemberontakan Trunajaya tanggal 26 Desember 1679. Amangkurat II bahkan menghukum mati Trunajaya dengan tangannya sendiri pada 2 Januari 1680.
7. Amangkurat III (Nama aslinya adalah Raden Mas Sutikna )
- memerintah antara tahun 1703– 1705.
- dijuluki Pangeran Kencet, karena menderita cacat di bagian tumit.
- Ketika menjabat sebagai Adipati Anom, ia menikah dengan sepupunya, bernama Raden Ayu Lembah putri Pangeran Puger. Namun istrinya itu kemudian dicerai karena berselingkuh dengan Raden Sukra putra Patih Sindureja.
- Raden Sukra kemudian dibunuh utusan Mas Sutikna, sedangkan Pangeran Puger dipaksa menghukum mati Ayu Lembah, putrinya sendiri. Mas Sutikna kemudian menikahi Ayu Himpun adik Ayu Lembah.
- Rombongan Amangkurat III melarikan diri ke Ponorogo sambil membawa semua pusaka keraton. Di kota itu ia menyiksa Adipati Martowongso hanya karena salah paham. Melihat bupatinya disakiti, rakyat Ponorogo memberontak. Amangkurat III pun lari ke Madiun. Dari sana ia kemudian pindah ke Kediri.
- Sepanjang tahun 1707 Amangkurat III mengalami penderitaan karena diburu pasukan Pakubuwana I. Dari Malang ia pindah ke Blitar, kemudian ke Kediri, akhirnya memutuskan menyerah di Surabaya tahun 1708.
- Pangeran Blitar, putra Pakubuwana I, datang ke Surabaya meminta Amangkurat III supaya menyerahkan pusaka-pusaka keraton, namun ditolak. Amangkurat III hanya sudi menyerahkannya langsung kepada Pakubuwana I.
- VOC kemudian memindahkan Amangkurat III ke tahanan Batavia. Dari sana ia diangkut untuk diasingkan ke Sri Lanka.
- Meninggal di negeri itu pada tahun 1734.
- Konon, harta pusaka warisan Kesultanan Mataram ikut terbawa ke Sri Lanka. Namun demikian, Pakubuwana I berusaha tabah dengan mengumumkan bahwa pusaka Pulau Jawa yang sejati adalah Masjid Agung Demak dan makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.
- Perang Suksesi Jawa I (1704–1708), antara Amangkurat III melawan Pakubuwana I.
- Perang Suksesi Jawa II (1719–1723), antara Amangkurat IV melawan Pangeran Blitar dan Pangeran Purbaya.
- Perang Suksesi Jawa III (1747–1757), antara Pakubuwana II yang dilanjutkan oleh Pakubuwana III melawan Hamengkubuwana I dan Mangkunegara I.

E. Peninggalan sejarah kerajaan mataram Islam :
I . Sumber- Sumber Berita:
a. Babad Tanah Djawi b. Babad Meinsma c. Serat Kandha d. Serat Centini e. Serat Cabolek f. Serat Dharma Wirayat (yang sangat populer sebagai karya Sri Paku Alam III.)
g. Serat Nitipraja h. Babad Sangkala i. Babad Sankalaniang Momana j. Sadjarah Dalem II. Seni dan Tradisi:
a. Sastra Ghending karya Sultan Agung b. Tahun Saka Pada tahun 1633, Sultan Agung mengganti perhitungan tahun Hindu yang berdasarkan perhitungan matahari dengan tahun Islam yang berdasarkan perhitungan bulan
c. Kerajinan Perak Perak Kotagede sangat terkenal hingga ke mancanegara, kerajinan ini warisan dari orang-orang Kalang.
Image and video hosting by TinyPic

d. Kalang Obong Upacara tradisional kematian orang Kalang, upacara ini seperti Ngaben di Bali, tetapi upacara Kalang Obong ini bukan mayatnya yg dibakar melainkan pakaian dan barang-barang peninggalannya
Image and video hosting by TinyPic

e. KUE KIPO Makanan tradisional ini sangat khas dan hanya ada di Kotagede, terbuat dari kelapa, tepung, dan gula merah.
Image and video hosting by TinyPic

f. Pertapaan Kembang Lampir Kembang Lampir merupakan petilasan Ki Ageng Pemanahan yang terletak di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul. Tempat ini merupakan pertapaan Ki Ageng Pemanahan ketika mencari wahyu karaton Mataram.
Image and video hosting by TinyPic

III. Bangunan- Bangunan, Benda Pusaka, dan Lainnya:
a. Segara Wana dan Syuh Brata Adalah meriam- meriam yang sangat indah yang diberikan oleh J.P. Coen (pihak Belanda) atas perjanjiannya dengan Sultan Agung. Sekarang meriam itu diletakkan di depan keraton Surakarta dan merupakan meriam yang paling indah di nusantara
Image and video hosting by TinyPic

b. Puing - puing / candi- candi Siwa dan Budha di daerah aliran Sungai Opak dan Progo yang bermuara di Laut Selatan
c. Batu Datar di Lipura yang tidak jauh di barat daya Yogyakarta d. Baju “keramat” Kiai Gundil atau Kiai Antakusuma e. Masjid Agung Negara Masjid Agung dibangun oleh PB III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768.
Image and video hosting by TinyPic

f. Masjid Jami Pakuncen Masjid Jami Pekuncen yang berdiri di Tegal Arum, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, merupakan salah bangunan peninggalan Islam yang dibuat Sunan Amangkurat I sebagai salah satu tempat penting untuk penyebaran Islam kala itu.
g. Gerbang Makam Kota Gede Gerbang ini adalah perpaduan unsur bangunan Hindu dan Islam.
Image and video hosting by TinyPic

h. Masjid Makam Kota Gede Sebagai kerajaan Islam, Mataram memiliki banyak peninggalan masjid kuno, inilah masjid di komplek makam Kotagede yang bangunannya bercorak Jawa.
Image and video hosting by TinyPic

i. Bangsal Duda Image and video hosting by TinyPic

j. Rumah Kalang Image and video hosting by TinyPic

k. Makam Raja- Raja Mataram di Imogiri Image and video hosting by TinyPic